<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel><title><![CDATA[KangGuru]]></title><description><![CDATA[Pikiran, cerita, dan gagasan dari seorang guru.]]></description><link>https://www.kangguru.id/</link><image><url>https://www.kangguru.id/favicon.png</url><title>KangGuru</title><link>https://www.kangguru.id/</link></image><generator>Ghost 5.82</generator><lastBuildDate>Fri, 06 Feb 2026 17:50:19 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://www.kangguru.id/rss/" rel="self" type="application/rss+xml"/><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Pendampingan Individu]]></title><description><![CDATA[Apa itu Pendampingan Individu pada Pendidikan Calon Guru Penggerak? Temukan bagaimana Pendampingan Individu menjadi faktor penting transformasi guru dalam menciptakan pembelajaran yang inspiratif dan berpusat pada peserta didik.]]></description><link>https://www.kangguru.id/pendampingan-individu/</link><guid isPermaLink="false">66c7fe132f1e9f05243ddf82</guid><category><![CDATA[Guru Penggerak]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Fri, 23 Aug 2024 02:59:00 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/08/Pendampingan-Individu.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/08/Pendampingan-Individu.jpg" alt="Pendampingan Individu"><p>Pendampingan Individu adalah proses <em>coaching</em> dan <em>mentoring</em> yang dilakukan oleh <strong>Pengajar Praktik (PP)</strong> kepada <strong>Calon Guru Penggerak (CGP)</strong>. Tujuan utama dari pendampingan ini adalah untuk membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran dari daring dan lokakarya, sehingga mereka mampu mengembangkan diri sendiri dan guru lain melalui refleksi, berbagi, dan kolaborasi, serta merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua&#x200B;.</p><p>Lebih lanjut, Pendampingan Individu bertujuan untuk membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran daring dan lokakarya sehingga Calon Guru Penggerak mampu:</p><ol><li>Mengembangkan diri sendiri dan juga guru lain dengan cara melakukan refleksi, berbagi, dan kolaborasi;</li><li>Memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik;</li><li>Merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua.</li></ol><p>Proses pendampingan individu berlangsung sekitar satu bulan sekali sepanjang proses Pendidikan Guru Penggerak, dan dilakukan kurang lebih 1 pekan sebelum Lokakarya. Dalam setiap bulannya, Pengajar Praktik akan mengunjungi sekolah Calon Guru Penggerak selama 4 jam pelajaran (3 x 60 menit) untuk mengamati kegiatan pembelajaran dan perubahan yang terjadi di sekolah sebagai implementasi pembelajaran daring dan lokakarya serta mengajak mereka merefleksikan prosesnya.</p><p>Ada 6 Pendampingan Individu selama proses Pendidikan Calon Guru Penggerak. Secara singkat, berikut ini adalah gambarannya.</p><p>Pendampingan Individu ke 1.<br>Tema: Refleksi awal kompetensi guru penggerak.<br>Fokus:</p><ul><li>Diskusi tantangan belajar daring</li><li>Refleksi penerapan perubahan kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara</li><li>Diskusi pembuatan kerangka portofolio</li><li>Diskusi peta posisi diri dan rencana pengembangan diri dalam kompetensi guru penggerak</li></ul><p>Pendampingan Individu ke 2.<br>Tema: Perubahan paradigma pemimpin pembelajaran<br>Fokus:</p><ul><li>Diskusi refleksi diri tentang lingkungan belajar di sekolah</li><li>Diskusi refleksi perubahan diri setelah mempelajari modul 1.1, 1.2 dan 1.3</li><li>Diskusi rencana merintis komunitas praktisi di sekolah, berdasarkan hasil pemetaan di lokakarya 1</li><li>Mengkomunikasikan visi dan prakasra perubahan ke KS dan warga sekolah dengan dimoderasi oleh PP</li></ul><p>Pendampingan Individu ke 3.<br>Tema: Implementasi Pembelajaran yang Berpihak pada Murid<br>Fokus:</p><ul><li>Refleksi hasil survei (umpan balik 360 derajat) dan penilaian sendiri tentang kompetensi guru penggerak</li><li>Diskusi rencana menerapkan pembelajaran sosial-emosional</li><li>Diskusi hasil lokakarya 2 (keterlaksanaan dari tahapan BAGJA)</li></ul><p>Pendampingan Individu ke 4.<br>Tema: Evaluasi dan Pengembangan Proses Pembelajaran<br>Fokus:</p><ul><li>Observasi kelas CGP untuk melihat penerapan dari modul budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional.</li><li>Penilaian Observasi Praktik Pembelajaran</li></ul><p>Pendampingan Individu ke 5.<br>Tema: Rancangan Program yang Berpihak pada Murid<br>Fokus:</p><ul><li>Refleksi penerapan aksi nyata modul 3.1</li><li>Diskusi rancangan program yang berdampak pada murid</li><li>Diskusi perkembangan komunitas praktisi yang dijalankan di sekolah serta implementasi dari rencana di lokakarya 3 untuk berbagi ke rekan sejawat</li><li>Penilaian praktik coaching</li></ul><p>Pendampingan Individu ke 6<br>Tema: Refleksi perubahan diri dan dampak pendidikan<br>Fokus:</p><ul><li>Persiapan panen hasil belajar</li><li>Pengumpulan survei umpan balik dan refleksi hasil survei tentang kompetensi guru penggerak (umpan balik 360 derajat)</li><li>Refleksi perubahan dalam pembelajaran yang sudah diterapkan selama 6 bulan, diskusikan dampak pada diri guru dan murid yang terjadi</li><li>Penilaian pemetaan aset; diskusi apakah tujuan program sudah dikomunikasikan ke warga sekolah</li></ul><p>Sebagai kesimpulan, <strong>Pendampingan Individu</strong> bukan hanya sekadar proses bimbingan, melainkan sebuah upaya holistik untuk memupuk potensi CGP menjadi pemimpin pembelajaran yang berdaya dan berdampak. Melalui pendampingan yang intensif dan personal, diharapkan setiap CGP mampu menghadirkan perubahan nyata di kelas, sekolah, dan komunitas mereka, sehingga pendidikan di Indonesia terus berkembang menuju arah yang lebih baik.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Bijak Tapi Tidak Empati]]></title><description><![CDATA[Semua orang mampu memberi nasihat kepada orang lain, namun tidak setiap orang dapat menunjukkan empati. Berempati adalah suatu kecerdasan tersendiri yang tidak semua orang mampu melakukan dengan baik.]]></description><link>https://www.kangguru.id/bijak-tapi-tidak-empati/</link><guid isPermaLink="false">66a7e9ea652a1c04bbcfdf47</guid><category><![CDATA[Guru Penggerak]]></category><category><![CDATA[Psikologi]]></category><category><![CDATA[Tatakrama]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Mon, 29 Jul 2024 13:27:00 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/07/curhat.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/07/curhat.jpg" alt="Bijak Tapi Tidak Empati"><p>Bayangkan sebuah dunia di mana setiap percakapan dimulai dengan <strong>pemahaman</strong>, bukan <strong>penghakiman</strong>. Di tengah era komunikasi digital yang serba cepat, keterampilan empati muncul sebagai kunci utama dalam membangun hubungan yang bermakna.</p><p>Sayangnya, kita kadang tidak sengaja mengucapkan kalimat yang seolah bijak namun sesungguhnya tidak berempati dan mungkin kalimat itu diam-diam melukai hati orang lain.</p><p>Mari kita simak satu contoh nasihat yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari. Nasihat ini terdengar bijak, tapi sesungguhnya tidak berempati. Mungkin kita pernah mengucapkan kalimat ini. Bahkan seorang guru yang telah dilatih tentang coaching di Pendidikan Guru Penggerak, mungkin juga pernah tidak sengaja mengucapkannya.</p><div class="kg-card kg-header-card kg-v2 kg-width-regular " style="background-color: #000000;" data-background-color="#000000">
            
            <div class="kg-header-card-content">
                
                <div class="kg-header-card-text ">
                    <h2 id="curhat" class="kg-header-card-heading" style="color: #FFFFFF;" data-text-color="#FFFFFF"><span style="white-space: pre-wrap;">Curhat</span></h2>
                    <p id="alda-saya-telah-bekerja-10-tahun-sebagai-pegawai-honorer-sampai-sekarang-belum-diangkat-menjadi-pns-gaji-saya-kecilbella-jangan-mengeluh-gajimu-sebenarnya-cukup-bila-kamu-pandai-bersyukur-tidak-ada-yang-memaksa-kamu-menjadi-honorer-itu-pilihanmu-sendiri-kalau-tidak-sanggup-sebaiknya-ajukan-pengunduran-diri-secara-baikbaik-di-luar-sana-masih-banyak-pengangguran-yang-siap-menggantikan-posisi-kamu" class="kg-header-card-subheading" style="color: #FFFFFF;" data-text-color="#FFFFFF"><span style="white-space: pre-wrap;">Alda: &quot;Saya telah bekerja 10 tahun sebagai pegawai honorer. Sampai sekarang belum diangkat menjadi PNS. Gaji saya kecil.&quot;Bella: &quot;Jangan mengeluh. Gajimu sebenarnya cukup bila kamu pandai bersyukur. Tidak ada yang memaksa kamu menjadi honorer. Itu pilihanmu sendiri. Kalau tidak sanggup, sebaiknya ajukan pengunduran diri secara baik-baik. Di luar sana masih banyak pengangguran yang siap menggantikan posisi kamu.&quot;</span></p>
                    
                </div>
            </div>
        </div><p>Bella tidak menyadari bahwa kalimatnya ternyata dirasakan tidak nyaman bagi Alda. Mengapa?</p><ul><li>Kurang empati: Bella tidak menunjukkan pemahaman atau simpati terhadap situasi sulit yang dihadapi Alda;</li><li>Menyalahkan korban: Bella seolah-olah menyalahkan Alda atas situasinya, padahal masalah yang dihadapi Alda mungkin berasal dari faktor-faktor di luar kendalinya;</li><li>Tidak konstruktif: Komentar Bella <strong>tidak memberikan solusi</strong> atau dukungan apapun;</li><li>Meremehkan masalah: Bella terkesan meremehkan kesulitan yang dihadapi Alda selama 10 tahun bekerja.</li></ul><p>Lagi pula, orang berkeluh kesah kadangkala bukan minta digurui, tapi hanya ingin didengar dan agar orang lain memahami perasaannya.</p><p>Kalimat yang lebih bijak yang seharusnya diucapkan Bella bisa seperti ini:</p><div class="kg-card kg-callout-card kg-callout-card-blue"><div class="kg-callout-emoji">&#x1F4A1;</div><div class="kg-callout-text">&quot;Saya mengerti situasimu pasti sulit, Alda. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk bertahan sebagai pegawai honorer. Bagaimana kalau kita diskusikan bersama tentang langkah-langkah yang mungkin bisa kamu ambil untuk meningkatkan situasi kerjamu? Mungkin kita bisa mencari tahu tentang peluang peningkatan status kepegawaian atau mencari alternatif pekerjaan lain yang lebih baik. Aku siap membantumu jika kamu membutuhkan dukungan.&quot;</div></div><p>Kalimat ini lebih baik karena:</p><ol><li>Menunjukkan empati dan pengertian;</li><li>Mengakui kesulitan situasi Alda;</li><li>Menawarkan bantuan dan dukungan;</li><li>Mendorong diskusi konstruktif untuk mencari solusi;</li><li>Tidak menyalahkan atau meremehkan masalah Alda.</li></ol><h3 id="empati-pada-coaching-dan-segitiga-restitusi">Empati Pada Coaching dan Segitiga Restitusi</h3><p>Di Pendidikan Calon Guru Penggerak ada materi tentang <em>Coaching</em> dan Segitiga Restitusi. Hubungan antara kalimat empati, <em>coaching</em>, dan segitiga restitusi erat kaitannya dalam konteks komunikasi interpersonal dan resolusi konflik. Mari kita bahas satu per satu:</p><ol><li>Kalimat Empati:<br>Kalimat empati adalah ungkapan yang menunjukkan pemahaman terhadap perasaan dan situasi orang lain. Ini adalah dasar dari komunikasi yang efektif dan penuh kasih.</li><li>Coaching:<br>Coaching adalah proses membimbing seseorang untuk mencapai potensi terbaiknya melalui dialog yang konstruktif dan reflektif.</li><li>Segitiga Restitusi:<br>Segitiga restitusi adalah konsep dalam resolusi konflik yang terdiri dari tiga elemen: pengakuan, tanggung jawab, dan perbaikan.</li></ol><p>Hubungan antara ketiganya:</p><ol><li>Empati sebagai Fondasi:<ul><li>Dalam coaching, empati adalah keterampilan kunci. Coach perlu memahami perspektif dan perasaan coachee.</li><li>Dalam segitiga restitusi, empati membantu dalam fase pengakuan, di mana seseorang mengakui dampak tindakannya terhadap orang lain.</li></ul></li><li>Coaching Menggunakan Kalimat Empati:<ul><li>Coach menggunakan kalimat empati untuk membangun hubungan trust dengan coachee.</li><li>Kalimat empati membantu coachee merasa didengar dan dipahami, membuka jalan untuk perubahan positif.</li></ul></li><li>Segitiga Restitusi dalam Proses Coaching:<br>Coaching sering melibatkan elemen-elemen segitiga restitusi:<br>a. Pengakuan: Membantu coachee mengakui situasi atau masalah.<br>b. Tanggung jawab: Mendorong coachee mengambil tanggung jawab atas tindakan dan keputusannya.<br>c. Perbaikan: Membimbing coachee menemukan solusi dan melakukan perbaikan.</li><li>Kalimat Empati dalam Segitiga Restitusi:<ul><li>Pengakuan sering dimulai dengan kalimat empati, misalnya: &quot;Saya mengerti bahwa tindakan saya telah menyakiti Anda.&quot;</li><li>Tanggung jawab dapat diekspresikan dengan empati: &quot;Saya memahami dampak dari keputusan saya dan saya bertanggung jawab penuh.&quot;</li><li>Perbaikan juga melibatkan empati: &quot;Saya ingin mendengar dari Anda bagaimana saya bisa memperbaiki situasi ini.&quot;</li></ul></li><li>Integrasi dalam Komunikasi Efektif:<ul><li>Kombinasi kalimat empati, pendekatan coaching, dan prinsip segitiga restitusi menciptakan komunikasi yang efektif dan berorientasi solusi.</li><li>Ini membantu dalam menyelesaikan konflik, membangun hubungan yang lebih kuat, dan mendorong pertumbuhan pribadi.</li></ul></li></ol><p>Dalam konteks Alda dan Bella, pendekatan yang mengintegrasikan ketiga elemen ini dapat diwujudkan dalam kalimat:</p><p>&quot;Alda, saya mendengar frustrasi dalam suaramu (empati). Mari kita bicarakan lebih dalam tentang situasimu dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya (coaching). Aku minta maaf jika komentarku sebelumnya terdengar tidak sensitif (pengakuan). Aku ingin mendukungmu dan mencari solusi bersama (tanggung jawab dan perbaikan).&quot;</p><p>Dengan mengintegrasikan empati, coaching, dan prinsip segitiga restitusi, kita dapat menciptakan dialog yang lebih konstruktif dan mendukung dalam berbagai situasi komunikasi.</p><p>Mawan A. Nugroho.<br>GP Angkatan 7 / PP Angkatan 11.</p><div class="kg-card kg-button-card kg-align-center"><a href="https://www.dropbox.com/referrals/AABAZZarV4EoAIN26EY5Z7oP2Sb_Qf098Zs?src=global9&amp;ref=kangguru.id" class="kg-btn kg-btn-accent">Media penyimpanan gratis. Klik di sini.</a></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Teknologi Yang Mendongkolkan]]></title><description><![CDATA[Sekelumit kisah keluh kesah tentang pengalaman saya ketika harus mengganti ponsel dari Android ke iPhone.]]></description><link>https://www.kangguru.id/teknologi-yang-mendongkolkan/</link><guid isPermaLink="false">66b47d19271267055438ec12</guid><category><![CDATA[Komputer]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Fri, 14 Jun 2024 23:01:00 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/08/pindah-rumah.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/08/pindah-rumah.jpg" alt="Teknologi Yang Mendongkolkan"><p>Teknologi kadang membuat kita tampak bodoh. Juga dongkol.<br><br>Selama ini saya memakai ponsel Android sebagai ponsel utama. Nah, kemarin saya membeli ponsel iPhone keluaran terbaru yang harganya sama dengan satu sepeda motor (yang ini jangan diingat-ingat, bikin mau nangis). Berarti saya harus memindahkan aplikasi dan data dari ponsel lama ke ponsel baru kan?<br><br>Logikanya: Pasang aplikasi di ponsel baru. Nanti data di ponsel lama dipindahkan ke ponsel baru. Seharusnya semudah itu. Tapi nyatanya berbeda.<br><br>Oke. Dimulai dengan memindahkan aplikasi mobile banking. Saya memasang aplikasi di ponsel baru (iPhone). Setelah mengetik username, password, dan OTP yang dikirim melalui SMS, ternyata saya harus menghapus aplikasi di ponsel lama.<br><br>Cara menghapusnya pun cukup unik. Saya harus memindai wajah saya. Wajah dipalingkan ke kiri, ke kanan, mendekat kamera, mengedipkan mata, dan membuka mulut. Selesai? Oh tidak. Ada pesan galat (error): &quot;Wajah tidak ditemukan. Silakan diulang.&quot;<br><br>Saya pun mengulang. Menoleh, kedip, mendekat ke kamera, membuka mulut.<br><br>Wajah masih tidak ditemukan.<br><br>Di sini saya mulai dongkol. Ayo dicoba lagi. Siapa takut? Kalau wajah saya masih tidak dapat ditemukan, mungkin saya harus mencari muka (wajah) ke para pejabat yang kini sedang marak. Ah, setidaknya hanya mencari muka, bukan menjilat.<br><br>Kembali saya melakukan ritual seperti sebelumnya. Lama-lama rasa dongkol itu berubah menjadi lucu. Iya, lucu! Saya membayangkan bagaimana pendapat orang lain yang tidak sengaja melihat saya dari kejauhan. Mereka melihat orang &quot;gila&quot; yang memegang ponsel seperti selfie kemudian tengok kanan dan kiri, membuka mulut, kedip, dan seterusnya. Mungkin mirip Mr Bean.<br><br>Alhamdulillah, akhirnya prosedur &quot;memalukan&quot; itu selesai. Untung tidak ada yang melihat.<br><br>Nah, berikutnya muncul masalah ke dua. Yang ini lebih berat dan serius.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mentalitas Kepiting]]></title><description><![CDATA[Tanpa disadari, mungkin di sekitar kita ada orang-orang yang bermental "Kepiting-kepiting di dalam ember." Apa itu Mentalitas Kepiting? Mari simak artikel menarik ini.]]></description><link>https://www.kangguru.id/mentalitas-kepiting/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d2a</guid><category><![CDATA[Psikologi]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Tue, 07 May 2024 12:08:06 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/05/kepiting.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/05/kepiting.jpg" alt="Mentalitas Kepiting"><p>Mental kepiting adalah cara berpikir yang biasanya digambarkan dengan frasa &#x201C;jika saya tidak bisa memilikinya, Anda juga tidak bisa&#x201D;.</p><p>Metafora ini berasal dari klaim anekdot tentang perilaku kepiting ketika mereka terperangkap dalam ember: meskipun satu kepiting dapat dengan mudah memanjat keluar, kepiting tersebut tetap akan ditarik kembali oleh yang lain, sehingga memastikan kehancuran kelompok secara kolektif.</p><p>Teori analogi dalam perilaku manusia adalah bahwa anggota kelompok akan berusaha untuk mengurangi kepercayaan diri setiap anggota yang mencapai kesuksesan melebihi yang lain, karena iri hati, cemburu, dendam, dengki, persekongkolan, atau perasaan kompetitif, untuk menghentikan kemajuan mereka meskipun tidak ada manfaat yang terkait.</p><h3 id="teori-pemeliharaan-evaluasi-diri">Teori pemeliharaan evaluasi diri</h3><p>Pada tingkat emosional, mentalitas kepiting dapat berasal dari kebutuhan manusia yang mendalam akan harga diri dan perbandingan sosial. Teori pemeliharaan evaluasi diri (SEM) dari Tesser menunjukkan bahwa individu terlibat dalam evaluasi diri tidak hanya melalui introspeksi tapi juga melalui perbandingan dengan orang lain, terutama mereka yang berada di dalam lingkaran sosial dekatnya.</p><p>Ketika seseorang yang dekat dengan kita unggul di bidang yang kita hargai, kita mungkin merasa terancam dan bertindak dengan cara meremehkan pencapaian mereka. Mekanisme ini sebagian dapat menjelaskan mengapa seseorang mungkin berusaha menjatuhkan mereka yang mencapai lebih dari dirinya, sebagai cara untuk melindungi harga diri dan status sosialnya.</p><p>Sebagai contoh, pertimbangkan dua orang teman yang sangat menyukai seni lukis dan secara rutin menghadiri kelas seni bersama. Mereka berdua bangga dengan kemampuan artistik mereka, tetapi ketika karya seni salah satu teman dipilih untuk pameran lokal yang bergengsi, teman yang lain mungkin mengalami perasaan iri dan merasa terancam harga dirinya.</p><div class="kg-card kg-callout-card kg-callout-card-grey"><div class="kg-callout-emoji">&#x1F4A1;</div><div class="kg-callout-text">Teman ini mungkin bereaksi dengan <strong><em>mencemarkan nama baik pameran</em></strong> itu sendiri, menunjukkan bahwa kemampuan artistik yang sebenarnya tidak ditangkap oleh acara semacam itu, sehingga mempertahankan harga diri mereka sambil &quot;menarik kembali&quot; temannya seperti kepiting dalam ember.</div></div><p>Emosi seperti iri hati dapat muncul ketika seseorang merasa terancam saat melakukan evaluasi diri. Hal ini dapat mengarah pada keinginan untuk mengurangi kesejahteraan orang lain, terutama ketika kesuksesan mereka menyoroti kegagalan atau kekurangan kita sendiri.</p><h3 id="teori-deprivasi-relatif">Teori deprivasi relatif</h3><p>Teori deprivasi relatif menyatakan bahwa perasaan ketidakpuasan dan ketidakadilan muncul ketika seseorang membandingkan situasi mereka dengan situasi orang lain secara tidak adil. Perasaan ketidaksetaraan ini, yang berakar pada persepsi subjektif dan bukan pada ukuran objektif, dapat sangat memengaruhi perilaku sosial, termasuk fenomena mentalitas kepiting.</p><p>Ketika individu melihat rekan-rekan mereka mencapai kesuksesan atau menerima pengakuan yang mereka rasa tidak pantas atau tidak dapat dicapai oleh diri mereka sendiri, hal ini dapat memicu tindakan yang bertujuan untuk meremehkan pencapaian rekan-rekan mereka.</p><p>Konsep ini muncul dari sebuah penelitian terhadap tentara Amerika oleh Stouffer. Tentara di unit yang mendapat promosi lebih banyak secara paradoks merasa kurang puas, merasa tersisih jika tidak dipromosikan, meskipun mereka memiliki kesempatan yang lebih baik untuk maju.</p><p>Hal ini mencerminkan bagaimana kekurangan relatif memicu ketidakpuasan dengan membandingkan situasi seseorang dengan orang lain. Dengan &quot;menyeret&quot; orang lain ke tingkat yang sama, individu dapat merasakan kepuasan.</p><p>Dengan demikian, mentalitas kepiting dapat dipandang sebagai respons terhadap ketidaksetaraan sosial yang dirasakan, di mana menjatuhkan orang lain menjadi strategi untuk mengatasi perasaan tidak mampu atau ketidakadilan.</p><h3 id="bias-jumlah-nol">Bias jumlah nol</h3><p>Bias zero-sum, di mana individu merasa bahwa mereka hanya dapat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan orang lain, dapat berkontribusi pada mentalitas kepiting.</p><p>Bias ini berakar pada kesalahpahaman mendasar tentang kesuksesan dan distribusi sumber daya, yang mengarah pada keyakinan yang salah bahwa kesuksesan dan sumber daya itu terbatas dan keuntungan seseorang harus menjadi kerugian bagi orang lain. Cara pandang seperti itu mendorong interaksi sosial yang kompetitif dan bukannya kolaboratif, yang mendorong perilaku yang bertujuan untuk menghalangi pencapaian orang lain demi melindungi bagian yang dianggap sebagai bagian dari sumber daya yang terbatas, seperti kepiting dalam ember.</p><p>Dalam penelitian Daniel V. Meegan, para peneliti menemukan bahwa murid mengharapkan nilai yang lebih rendah untuk teman sebaya setelah melihat banyak nilai tinggi yang telah diberikan, meskipun berada dalam sistem di mana nilai tinggi tidak terbatas. Hal ini menggambarkan bagaimana orang sering melihat kesuksesan sebagai sumber daya yang terbatas.</p><p>Jadi, ketika mereka melihat rekan-rekan mereka berhasil &quot;keluar dari ember&quot;, mereka mungkin mencoba untuk menghambat kemajuan mereka untuk memastikan peluang mereka sendiri untuk sukses tetap tidak berubah.</p><p>Sangat penting untuk membedakan mentalitas kepiting dari persaingan strategis, di mana tindakan dihitung untuk kepentingan pribadi dan keuntungan pribadi. Perilaku rasional orang ditujukan langsung untuk menguntungkan diri mereka sendiri. Karena didorong oleh bias kognitif dan emosi, mentalitas kepiting sering kali merupakan perilaku reaktif dan tidak rasional yang berusaha menyamakan kedudukan dengan menjatuhkan orang lain, meskipun tidak ada manfaat langsung bagi individu tersebut.</p><h3 id="variasi-budaya">Variasi budaya</h3><p>Mentalitas kepiting menampilkan variasi yang menarik di berbagai budaya, masing-masing memberikan lensa yang unik untuk melihat fenomena ini.</p><p>Di Filipina, frasa mentalitas kepiting dengan jelas menggambarkan kecenderungan orang untuk menyeret rekan-rekan mereka ke bawah, secara metaforis, untuk mencegah mereka keluar dari ember fiksi.</p><p>Perspektif ini tercermin di Australia dan Selandia Baru melalui sindrom <em>tall poppy</em>, di mana individu yang mencapai kesuksesan besar sering kali menjadi sasaran atau dikritik, yang mencerminkan preferensi masyarakat akan kesetaraan daripada perbedaan individu. Hukum Jante di negara Skandinavia mengambil pendekatan yang berbeda namun berkaitan untuk mempromosikan nilai-nilai komunitas di atas pencapaian pribadi, yang menunjukkan pendekatan komunal terhadap kesuksesan.</p><h3 id="penerapan">Penerapan</h3><p>Konsep mentalitas kepiting memiliki aplikasi praktis di berbagai bidang. Di tempat kerja, mengenali mentalitas kepiting dapat membantu organisasi mengembangkan strategi untuk menumbuhkan budaya yang lebih kolaboratif dan mengurangi persaingan yang kontraproduktif di antara para karyawan. Misalnya, dengan mempromosikan penghargaan berbasis tim dan mengakui pencapaian kolektif, perusahaan dapat mendorong kerja sama tim dan saling mendukung.</p><p>Perilaku karyawan yang merongrong dapat mengikis kepercayaan dan kerja sama di antara anggota tim, yang mengarah ke lingkungan kerja yang beracun.</p><p>Dalam lingkungan pendidikan, kesadaran akan mentalitas kepiting dapat memandu intervensi yang bertujuan untuk mempromosikan pola pikir pertumbuhan di antara para murid, di mana kesuksesan dilihat sebagai sesuatu yang dapat dicapai oleh semua orang melalui upaya dan kerja sama, dan tidak terbatas seperti dalam permainan <em>zero-sum</em>.</p><p>Upaya pengembangan masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dari pemahaman mentalitas kepiting, terutama dalam merancang program yang bertujuan untuk mencapai keberhasilan kolektif. Dengan mengatasi konflik dan persaingan yang mendasarinya, inisiatif semacam itu dapat mendorong semangat yang lebih kooperatif, memastikan bahwa keberhasilan salah satu anggota dirayakan sebagai pencapaian kolektif dan bukan keberhasilan individu.</p><p>Menurut sebuah studi oleh Robert J. Sampson, Stephen W. Raudenbush, dan Felton Earls, solidaritas masyarakat dapat mengarah pada hasil positif seperti pengurangan kekerasan. Pada intinya, &quot;kepiting di dalam keranjang&quot; harus diberitahu bahwa mereka semua dapat &quot;melarikan diri&quot; jika mereka bekerja sama, dan menjatuhkan orang lain tidak akan menghasilkan apa pun selain konflik.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Murid Tidak Boleh Gondrong]]></title><description><![CDATA[Terjadi pro dan kontra. Yang menolak aturan rambut tidak boleh gondrong beralasan bahwa sekolah umum bukanlah sekolah militer atau kedinasan. Rambut tidak mengganggu proses KBM. Murid berambut gondrong tidak berarti nakal. Dan sebagainya.]]></description><link>https://www.kangguru.id/murid-tidak-boleh-gondrong/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d29</guid><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Sun, 05 May 2024 19:00:26 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/05/anak-sekolah.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/05/anak-sekolah.jpg" alt="Murid Tidak Boleh Gondrong"><p>Terjadi pro dan kontra. Yang menolak aturan rambut tidak boleh gondrong beralasan bahwa sekolah umum bukanlah sekolah militer atau kedinasan. Rambut tidak mengganggu proses KBM. Murid berambut gondrong tidak berarti nakal. Dan sebagainya. Berikut ini adalah pandangan saya.</p><p>Kalau ingin merokok, maka merokoklah di rumah sendiri atau di ruangan khusus perokok. Jangan memaksa merokok di ruang yang bebas asap rokok, walau pun menurut para perokok, merokok itu tidak mengganggu kesehatan. Tidak percaya? Silakan berdebat dengan perokok.</p><p>Kalau mau memakai kaos singlet dan celana kolor, maka lakukan di rumah sendiri. Jangan memaksa masuk ke rumah tetangga atau ke perkantoran yang mewajibkan berpakaian rapi. Ada orang-orang yang tidak nyaman berada di lingkungan orang-orang yang memakai singlet dan celana kolor. Hormati orang-orang itu.</p><p>Kalau mau belajar dengan rambut gondrong, maka belajarlah di rumah <em>(home schooling)</em> atau cari sekolah yang membolehkan berambut gondrong. Sekolah telah mempunyai peraturan. Peraturan itu untuk mendidik disiplin sekaligus melindungi kenyamanan murid-murid lain. Sekolah bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tapi disiplin dan akhlak.</p><p>Ada kok sekolah yang membolehkan muridnya berambut gondrong. Para pendukung rambut gondrong silakan sekolah di situ. Tapi saya tidak akan menyekolahkan anak saya di situ. Saya akan menyekolahkan anak saya di sekolah yang mewajibkan muridnya berambut rapi dan berseragam.</p><p>Apa salahnya berambut gondrong? Jangan diperdebatkan. Sama seperti berdebat tentang bahaya merokok. Tak akan selesai sampai Dunia kiamat. Lebih baik ikuti saja peraturan. Kalau ruangan itu tidak boleh ada yang merokok, ya jangan merokok. Ini untuk melindungi kenyamanan orang lain yang tidak merokok. Kalau di suatu sekolah dilarang berambut gondrong, ya harus dipatuhi. Bukan tentang sekolah militer. Ini tentang menjaga kenyamanan orang lain dan mematuhi peraturan.</p><h3 id="rapikan-tempat-tidurmu">Rapikan Tempat Tidurmu</h3><p>Saya teringat tentang merapikan tempat tidur setelah dipakai. Ada yang berpendapat bahwa sprei, bantal, dan guling tidak perlu dirapikan. Ranjang yang rapi tidak ada hubungannya dan tidak akan berpengaruh pada aktivitas di luar rumah. Benarkah?</p><p>Di bawah ini saya cuplikkan sebagian dari pidato <strong>William H. McRaven.</strong></p><blockquote>Jika kamu ingin mengubah Dunia, mulailah dengan merapikan tempat tidurmu. Jika kamu merapikan tempat tidurmu setiap pagi, kamu telah menyelesaikan tugas pertama di hari itu. Itu akan memberimu sedikit rasa bangga, dan akan mendorongmu untuk melakukan tugas lainnya, dan lainnya. Dan pada akhirnya, satu tugas yang selesai akan menjadi banyak tugas yang selesai. Merapikan tempat tidurmu juga akan menunjukkan bahwa hal-hal kecil dalam hidup adalah berarti. Jika kamu tidak dapat melakukan hal kecil dengan benar, kamu tidak akan pernah bisa melakukan hal besar dengan benar. Dan apabila kamu mengalami hari yang menyedihkan, kamu akan pulang ke tempat tidurmu yang sudah dirapikan, yang kamu rapikan. Dan tempat tidur yang rapi memberimu dorongan bahwa hari esok akan lebih baik. Jadi jika kamu ingin mengubah Dunia, mulailah dengan merapikan tempat tidurmu.</blockquote>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Durian Runtuh]]></title><description><![CDATA[Di media sosial ada video tentang orang yang menemukan durian. Durian itu berada di tengah jalan. Sepertinya jatuh dari pohon durian. Pertanyaannya, apakah boleh dipungut?
]]></description><link>https://www.kangguru.id/durian-runtuh/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d28</guid><category><![CDATA[Tatakrama]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Wed, 01 May 2024 18:41:25 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/05/Durian-jatuh.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/05/Durian-jatuh.jpg" alt="Durian Runtuh"><p>Di media sosial ada video tentang orang yang menemukan durian. Durian itu berada di tengah jalan. Sepertinya jatuh dari pohon durian. Pertanyaannya, apakah boleh dipungut?</p><p>Sebagian orang berpendapat, itu boleh dipungut karena jatuh di lahan umum. Sebagian lagi berpendapat tetap tidak boleh, terutama bila di daerah itu tidak ada kebiasaan yang membolehkan memungut buah yang terjatuh atau diyakini pemiliknya tidak akan rela.</p><p>Saya lebih condong pada pendapat yang tidak membolehkan. Misalkan yang ditemukan bukan durian tapi dompet orang lain, apakah dompet itu boleh dipungut dan dimiliki si penemu? Bahkan bank yang salah transfer pun, si penerima dana harus mengembalikan, sekali pun dana itu disangka hadiah dari bank kemudian telah terlanjur dibelanjakan.</p><p>Sebagai guru, saya mengajarkan kepada murid-murid untuk menyerahkan uang atau barang yang ditemukan ke guru piket.</p><p>Saya juga pernah menemukan uang yang terjatuh di parkiran mal. Uang itu tidak dipungut, tapi saya tengok kiri dan kanan mencari petugas keamanan. Alhamdulillah terlihat ada petugas. Saya melambaikan tangan sambil memanggil beliau kemudian menunjukkan ada uang yang terjatuh. Saya tidak menyentuh uang itu. Setelah diamankan oleh petugas, saya melanjutkan perjalanan.</p><p>Ketika saya masih kanak-kanak, ada penumpang kereta api yang turun tergesa-gesa di suatu stasiun. Kebetulan keluarga saya duduk di lorong seberang dan akan turun di stasiun berikutnya. Terlihat buku novel yang tertinggal. Saya buru-buru mengambil buku itu, mengejar pemiliknya yang telah turun dari gerbong, kemudian menyerahkannya. Tidak ada rasa menyesal karena &quot;kehilangan&quot; kesempatan memiliki buku novel. Justru saya senang karena mendapat pujian dari orang tua saya.</p><p>Kembali ke masalah durian. Sebaiknya durian itu dipinggirkan agar tidak menghalangi jalan, kemudian si penemu melanjutkan perjalanan tanpa memungut durian itu. Bila tahu pemiliknya, lebih baik diserahkan ke pemiliknya. Kemungkinan besar pemilik kebun akan berterima kasih kemudian memberikan ke si penemu. Tapi kalau pun tidak diberikan, ya tidak apa-apa. Setidaknya telah berbuat satu kebaikan.</p><h3 id="buah-kurma-tetangga">Buah Kurma Tetangga</h3><p>Sebagai pelengkap, saya <a href="https://islamkaffah.id/memungut-buah-yang-jatuh-dari-pohon/?ref=kangguru.id">copaskan</a> kisah tentang buah kurma yang terjatuh di pekarangan tetangga yang bernama Abu Dujanah.</p><p>Abu Dujanah adalah sahabat Nabi dari kabilah Khazraj, beliau gugur sebagai syahid dalam perang Yamamah saat melawan nabi palsu, Musailamah al-Kadzzab.</p><p>Suatu saat, dalam beberapa hari terakhir seusai shalat shubuh berjamaah bersama Nabi, Abu Dujanah selalu tergesa-gesa dan tidak bersabar menunggu doa yang dipanjatkan Nabi sehabis shalat. Melihat gelagat yang kurang enak ini, Nabi bertanya. &#x201C;Mengapa akhir-akhir ini engkau selalu terburu-buru pulang saat usai jemaah shubuh. Apakah engkau tidak memiliki permintaan kepada Allah, sehingga tidak pernah menunggu doa bersamaku, ada apa?&quot;</p><p>Abu Dujanah menjawab, &#x201C;Bukan demikian wahai Nabi, namun kami mempunyai uzur, sehingga tergesa-gesa pulang.&#x201D; Lalu Abu Dujanah memulai ceritanya.</p><p>&#x201C;Begini, rumah kami berdampingan dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke pekarangan rumah kami. Setiap kali angin bertiup di malam hari, buah kurma itu berjatuhan di pekarangan rumah kami.&#x201D;</p><p>&#x201C;Kami tergolong keluarga yang kurang mampu. Anak kami sering kelaparan. Saat mereka bangun, apa pun yang didapat dimakan begitu saja. Alasan ini yang membuat kami bergegas segera pulang sebelum mereka terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan buah kurma yang berceceran di pekarangan rumah, lalu kami antarkan kepada tetangga, si pemilik buah itu.&#x201D;</p><p>&#x201C;Suatu saat, kami agak terlambat pulang. Kami melihat dengan mata kepala sendiri, anak kami sudah terlanjur makan kurma hasil pungutannya, tampak ia sedang mengunyah kurma basah itu di mulutnya. Mengetahui hal itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulutnya. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana.&#x201D;</p><p>&#x201C;Kami katakan, &apos;Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.&apos; Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Kami katakan kembali kepadanya, &apos;Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya.&apos;&#x201D;</p><p>Mendengar penuturan sahabatnya itu, mata Nabi berkaca-kaca, butiran air mata mulianya menetes. Baginda Nabi mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu. Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pohon kurma itu milik seorang laki-laki munafik.</p><p>Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma lalu mengatakan kepadanya, &#x201C;Maukah kamu menjual pohon kurma itu kepadaku? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat pohon kurma itu kelak di surga.&#x201D;</p><p>Laki-laki munafik itu menjawab dengan tegas, &#x201C;Aku tak pernah berdagang dengan cara dihutangkan. Aku tidak mau menjual kecuali dengan uang tunai, bukan sekedar janji-janji.&#x201D;</p><p>Lalu datanglah sahabat Abu Bakar as-Shiddiq lantas berkata, &#x201C;Sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat pohon kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).&#x201D;</p><p>Si munafik pun kegirangan sembari berujar, &#x201C;Kalau begitu aku jual.&#x201D; Abu Bakar menyahut, &#x201C;Bagus, aku beli.&#x201D; Setelah sepakat, Abu Bakar langsung menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah. Kemudian Nabi bersabda, &#x201C;Wahai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.&#x201D; Mendengar sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira, begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya lalu mengisahkan apa yang baru saja dialaminya.</p><p>&#x201C;Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Akulah yang akan memakan buah-buahnya dan tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.&#x201D;</p><p>Pada malam harinya saat si munafik tidur dan terbangun di waktu pagi, tiba-tiba pohon kurma yang sudah dijual itu berpindah posisi menancap kokoh di tanah pekarangan rumah Abu Dujanah, seolah-olah tak pernah tumbuh di atas tanah milik si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia terperangah dan terheran-heran. Inilah salah satu mukjizat Nabi yang langsung dirasakan oleh sahabat Abu Dujanah. (Abu Bakar bin Muhammad Syatha Al-Dimyati, <em>I&#x2019;anah al-Thalibin, </em>Juz 3, hal. 252., Abdurrahman Al-Shafuri, <em>Nuzhah al-Majalis wa Muntakhab al-Nafais,</em>Juz 1 hal. 193.).</p><h3 id="apel-yang-hanyut-di-sungai">Apel Yang Hanyut Di Sungai</h3><p>Kisah berikutnya saya copaskan dari <a href="https://islamdigest.republika.co.id/berita/q9qbkp483/kisah-sebuah-apel-kala-pemuda-jujur-menikahi-wanita-cacat?ref=kangguru.id">Republika</a>.</p><p>Pada masa akhir era Tabi&#x2019;in, hidup seorang pemuda dari kalangan biasa namun saleh luar biasa. Suatu hari, pemuda yang dikisahkan bernama Tsabit bin Zutho tersebut sedang berjalan di pinggiran Kota Kufah, Irak. Terdapat sungai yang jernih dan menyejukkan di sana. Tiba-tiba, sebuah apel segar tampak hanyut di sungai itu.</p><p>Dalam kondisi yang lapar, Tsabit pun memungut apel tersebut. Rezeki yang datang tiba-tiba, sebuah apel datang tanpa diduga di saat yang tepat. Tanpa pikir panjang, ia pun memakannya, mengisi perutnya yang keroncongan. Baru segigit menikmati apel merah nan manis itu, Tsabit tersentak. Milik siapa apel ini? bisiknya dalam hati.</p><p>Meski menemukannya di jalanan, Tsabit merasa bersalah memakan apel tanpa izin empunya. Bagaimanapun juga, pikir Tsabit, buah apel dihasilkan sebuah pohon yang ditanam seseorang. &apos;&#x201D;Bagaimana bisa aku memakan sesuatu yang bukan milikku,&#x201D; kata Tsabit menyesal.</p><p>Ia kemudian menyusuri sungai. Dari manakah aliran air membawa apel segar itu? Tsabit berpikir akan bertemu dengan pemilik buah dan meminta kerelaannya atas apel yang sudah digigitnya itu. Cukup jauh Tsabit menyusuri aliran sungai hingga ia melihat sebuah kebun apel. Beberapa pohon apel tumbuh subur di samping sungai. Rantingnya menjalar dekat sungai. Tak mengherankan jika buahnya sering kali jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus air.</p><p>Tsabit &#xA0;segera mencari pemilik kebun. Ia mendapati seseorang tengah menjaga kebun apel tersebut. Tsabit menghampirinya seraya berkata, &#x201C;Wahai hamba Allah, apakah apel ini berjenis sama dengan apel di kebun ini? Saya sudah mengigit apel ini, apa kau memaafkan saya?&#x201D; kata Tsabit sembari menunjukkan apel yang telah dimakan segigit itu.</p><p>Namun, penjaga kebun itu menjawab, &#x201C;Saya bukan pemilik kebun apel ini. Bagaimana saya dapat memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya? Pemilik kebunlah yang berhak memaafkanmu.&#x201D; Lalu, penjaga kebun itu pun berkata, &#x201C;Rumahnya (pemilik kebun apel) cukup jauh, sekitar lima mil dari sini.&#x201D;</p><p>Walau harus menempuh jarak sekitar delapan kilometer, Tsabit tak putus asa untuk mencari keridaan pemilik apel. Akhirnya, ia sampai di sebuah rumah dengan perasaan gelisah, apakah si pemilik kebun akan memaafkannya. Tsabit merasa takut sang pemilik tak meridai apelnya yang telah jatuh ke sungai digigit olehnya.</p><p>Mengetuk pintu, Tsabit mengucapkan salam. Seorang pria tua, si pemilik kebun apel, membuka pintu. &#x201C;Wahai hamba Allah, saya datang ke sini karena saya telah menemukan sebuah apel dari kebun Anda di sungai, kemudian saya memakannya. Saya datang untuk meminta kerelaan Anda atas apel ini. Apakah Anda meridainya? Saya telah mengigitnya dan ini yang tersisa,&#x201D; ujar Tsabit memegang apel yang digigitnya.</p><p>Agak lama pemilik kebun apel itu terdiam mendengar ucapan Tsabit. Lalu, Tsabit pun tersentak ketika sang tuan rumah berkata, &#x201C;Tidak, saya tidak merelakanmu, Nak.&#x201D; Penasaran dengan pemilik kebun &#xA0;yang mempermasalahkan satu butir apel, Tsabit menanyakan apa yang harus ia lakukan agar tindakannya itu dimaafkan. &#x201C;Saya tidak memaafkanmu, demi Allah, kecuali jika kau memenuhi persyaratanku,&#x201D; pria tua itu menjawab.</p><p>&#x201C;Persyaratan apa itu?&#x201D; tanya Tsabit harap-harap cemas. &#x201C;Kau harus menikahi putriku,&#x201D; kata pemilik kebun yang mengagetkan Tsabit. Menikahi seorang wanita bukanlah sebuah hukuman, pikir Tsabit. &#x201C;Benarkah itu yang menjadi syarat Anda? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri Anda? Itu adalah anugerah yang besar,&#x201D; tanya Tsabit tak percaya.</p><p>Begitu terperanjatnya Tsabit ketika pemilik kebun itu berkata bahwa putrinya yang harus Tsabit nikahi merupakan wanita cacat. &#x201C;Putriku itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tak mampu berjalan, apalagi berdiri. Kalau kau menerimanya maka saya akan &#xA0;memaafkanmu, Nak,&#x201D; kata pria tua.</p><p>Syarat yang mungkin sulit masuk di akal, hukuman yang harus ditanggung Tsabit hanya karena mengigit sebutir apel yang temukan di sungai. Namun, hal yang lebih mengejutkan, Tsabit menerima syarat tersebut karena merasa tak memiliki pilihan lain. Sementara, ia tak ingin berdosa mengambil hak yang bukan miliknya. Tsabit, seorang pemuda tampan, harus menikahi wanita cacat hanya karena menemukan sebuah apel. &#x201C;Datanglah ba&#x2019;da Isya untuk berjumpa dengan istrimu,&#x201D; kata pemilik kebun.</p><p>Malam hari usai shalat Isya, Tsabit pun menemui calon istrinya yang cacat. Ia masuk ke kamar pengantin wanita dengan langkah yang berat. Hatinya dipenuhi pergolakan luar biasa, namun pemuda gagah itu tetap bertekad memenuhi syarat sang pemilik apel. Tsabit pun mengucapkan salam seraya masuk ke kamar istrinya.</p><p>Betapa terkejutnya Tsabit ketika mendengar jawaban salam dari wanita yang suaranya lembut nan merdu. Tak hanya itu, wanita itu mampu berdiri dan menghampiri Tsabit. Begitu cantik paras si wanita, tanpa cacat apa pun di anggota tubuhnya yang lengkap. Tsabit kebingungan, ia berpikir salah memasuki kamar dan salah menemui wanita yang seharusnya merupakan istrinya yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh.</p><p>Tak percaya, Tsabit pun mempertanyakan si gadis bak bidadari tersebut. Namun, Tsabit tidak salah, ialah putri pemilik kebun apel yang dinikahkan dengannya. &#x201C;Apa yang dikatakan ayah tentang aku?&#x201D; tanya si gadis mendapati suaminya mempertanyakan dirinya seolah tak percaya.</p><p>&#x201C;Ayahmu berkata kau adalah seorang gadis buta,&#x201D; kata Tsabit.</p><p>&#x201C;Demi Allah, ayahku berkata jujur, aku buta karena aku tidak pernah melihat sesuatu yang dimurkai Allah,&#x201D; jawab si gadis membuat Tsabit kagum.</p><p>&#x201C;Ayahmu juga berkata bahwa kau bisu,&#x201D; ujar Tsabit masih dalam nada heran.</p><p>&#x201C;Ya benar, aku tidak pernah mengucapkan satu kalimat pun yang membuat Allah murka,&#x201D; kata si gadis.</p><p>&#x201C;Tapi, Ayahmu mengatakan, kamu bisu dan tuli,&#x201D; lanjut Tsabit.</p><p>&#x201C;Ayahku benar, demi Allah. Aku tidak pernah mendengar satu kalimat pun, kecuali di dalamnya terdapat rida Allah,&#x201D; jawab gadis cantik itu.</p><p>&#x201C;Tapi, ayahmu juga bilang bahwa kau lumpuh,&#x201D; pertanyaan terakhir Tsabit.</p><p>&#x201C;Ya, ayah benar dan tidak berdusta. Aku tidak pernah melangkahkan kakiku ke tempat yang Allah murkai,&#x201D; ujar si gadis membuat Tsabit begitu terpesona.</p><p>Tsabit memandangi istrinya yang cantik jelita itu. Ia pun mengucapkan syukur. Sang pemilik kebun kagum dengan sifat kehati-hatian Tsabit dalam memakan sesuatu hingga jelas kehalalannya. Melihat kegigihan dan kesalehan Tsabit, ia pun berkeinginan menjadikannya menantu, menikahkannya dengan putrinya yang shalihah.</p><p>Dari pernikahan tersebut, lahir seorang ulama shalih, mujadid yang sangat terkenal, yakni Nu&#x2019;man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Abu Hanifah. Bersama istrinya yang shalihah, Tsabit mendidik putranya menjadi salah satu imam besar dari empat madzab.</p><p>Kisah pemuda yang bukan lain adalah ayah dari Imam Abu Hanifah tersebut terdapat dalam kitab terkenal Al-Aghani karya Abu Al-Faraj Al-Isbahani. Buku terkenal dalam kesusastraan Arab tersebut berisi tentang sajak lagu serta informasi biografi dari tokoh-tokoh Islam terdahulu, para tabi&#x2019;in dan tabi&#x2019;it tabi&apos;in di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Masa Depan Programmer]]></title><description><![CDATA[Dalam suatu diskusi di grup Facebook Laravel Indonesia, muncul pertanyaan menarik mengenai apakah para programmer masih akan terus bekerja menjual waktunya hingga usia 50 tahun. Sebagai seorang guru IT yang telah berpengalaman, saya ingin berbagi pemikiran saya mengenai hal ini.]]></description><link>https://www.kangguru.id/masa-depan-programmer/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d27</guid><category><![CDATA[Komputer]]></category><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><category><![CDATA[Opini]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Mon, 08 Apr 2024 08:40:00 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/04/programmer-komputer.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/04/programmer-komputer.jpg" alt="Masa Depan Programmer"><p>Di grup Facebook <a href="https://www.facebook.com/groups/laravel/permalink/2852347464903591/">Laravel Indonesia</a> (semacam grup untuk para programmer komputer), ada pertanyaan seperti ini: &quot;<strong>Mau nanya hu, apakah programmer sampai di umur 50an masih terus bekerja menjual waktunya? Saya terpikir jika ada kena sakit lama.</strong>&quot; [Ryuzaki L].</p><p>Sambil menunggu bedug Maghrib untuk berbuka puasa, saya mengetik seperti di bawah ini. Tidak disangka, komentar saya mendapat 131 reaksi dan komentar-komentar positif. Oke, langsung saja saya <em>copy paste</em>-kan komentar saya itu.</p><hr><p>Profesi yang paling tidak menjanjikan untuk masa depan adalah IT. Eit, jangan protes dulu. Saya juga orang IT. Tepatnya, guru IT. Begini ceritanya.<br><br>Dulu, ketika saya masih muda, masih <em>fresh graduate</em>, saya adalah salah seorang guru paling paham IT. Malah beberapa kali menjuarai kejuaraan bertaraf Nasional di bidang IT. Saya mulai mengajar di SMK tahun 1998. Pada saat itu belum ada Code Igniter, Laravel, dan Bootstrap. Benar-benar masih enteng kayak hidup di pedesaan. Desain web masih memakai Macromedia Dreamweaver atau Microsoft Front Page. Untuk pemrograman komputer, cukup menguasai Basic (Quick Basic, Turbo Basic), Pascal, Delphi, C, Assembly, Perl, PHP, dBase (Clipper / Foxpro), dan JavaScript. Cobol dan Prolog kala itu masih ada yang memakai, tapi telah menunjukkan tanda-tanda kepunahan.</p><p>Makin ke sini makin ke sana.<br>Kini teknologi Komputer makin berkembang pesat, baik <em>hardware</em> maupun <em>software</em>. Ada ilmu tentang <em>Quantum Computing</em>, <em>Artificial Intelligence</em>, <em>Distributed Ledger Technology</em>, <em>Machine Learning</em>, dan <em>Deep Learning.</em> Di pemrograman komputer, ketika saya masih berjuang untuk menguasai Python, Ruby, Java, dan Objective-C, eh muncul Node.js, Go, Kotlin, Dart, dan Swift. Itu belum termasuk frameworknya. Satu bahasa pemrograman dapat mempunyai beberapa framework, misalkan PHP punya setidaknya 10 framework.</p><p>Masuk usia 50 tahunan, saya makin kesulitan mengimbangi perkembangan IT. Akibatnya, untuk teknologi-teknologi baru, saya sulit berkompetisi dengan para programmer muda yang baru lulus dari kampus informatika. Mereka otaknya masih encer. Saya teringat pada syair salah satu lagu Qosidah: &quot;Belajar di waktu kecil bagai melukis di atas batu. Belajar setelah dewasa bagai melukis di atas air.&quot;</p><div class="kg-card kg-callout-card kg-callout-card-grey"><div class="kg-callout-emoji">&#x1F4A1;</div><div class="kg-callout-text">Ini berbeda dengan guru matematika atau guru bahasa Inggris. Makin tua, guru-guru ilmu murni seperti Matematika kemahirannya makin &quot;ngelotok&quot; karena tiap tahun diulang-ulang. Sejak zaman nabi Adam, 1 + 1 ya hasilnya 2. Tidak berubah menjadi 3. Sedangkan ilmu IT tidak berulang diajarkan di sekolah. Setiap saat ada teknologi baru yang perkembangannya melebihi kemampuan otak dalam mengikuti. Yang diajarkan guru komputer tahun 1990-an berbeda dengan yang diajarkan guru komputer tahun 2020-an.</div></div><p>Jadi sepertinya, ketika masuk usia 50 tahun, yang dulunya guru pemrograman komputer, mungkin di usia 50 tahun pindah ke manajemen menjadi Ketua Jurusan atau menjadi Kepala Sekolah (kalau bisa!), sembari melipir memilih mata pelajaran komputer yang tidak terlalu berat, misalkan algoritma atau kalau perlu cukup mengajar Microsoft Office. Yang di perkantoran, pindah posisi menjadi manajer yang tidak terjun langsung memegang <em>keyboard</em> komputer untuk <em>coding</em>, tapi hanya memberikan konsep-konsep secara garis besar. Di pemerintahan masih memungkinkan seperti itu, yang penting tidak sampai diberhentikan. Tapi di swasta kayaknya sulit. Salah-salah malah yang paling duluan dipecat kalau ada PHK massal, hehehe...<br><br>Mumpung masih muda, uang yang didapat disisihkan untuk investasi. Investasi tak melulu berupa fisik misalkan membeli sebidang tanah, tapi investasi juga dapat berupa diri sendiri, misalkan ikut berbagai diklat. Selain menambah pengetahuan, bagi yang PNS dapat menambah Angka Kredit sehingga kelak ketika pensiun, pangkatnya berada di posisi setinggi mungkin.<br><br>Investasi juga dapat berupa membangun kontrakan atau kos-kosan untuk masa depan ketika teknologi pemrograman komputer moderen makin sulit dipahami. Atau buka usaha jualan es kobok yang kabarnya bisa dapat jutaan rupiah perhari, mengalahkan programmer komputer yang beberapa aplikasi sederhananya dihargai cuma beberapa ratus ribu rupiah, padahal dibuat berhari-hari sampai begadang tengah malam.</p><p>126 &#x1F44D; / 3 &#x2764;&#xFE0F; / 1 &#x1F970; / 1 &#x1F62E;</p><hr><p>Komentar-komentar:</p><ul><li>Ryuzaki L: ini yang saya pikirkan mas haha sangat setuju</li><li>Adhi Sus: betul betul betul.</li><li>Husen Nuzul: boro boro 50 om masuk kepala 45 an udah mumet ikutin perkembangan program &#x1F915;&#x1F915;&#x1F915;</li><li>Putra: apalagi semenjak rame nya AI dan kawan&#xB2;, saya aja yang muda capek pelajarinnya pak wkwkwk</li><li>Ikhsan Sembiring: i feel u pak, walaupun saya belum sampai 50 juga sih&#x1F600;</li><li>Bayu Bees: skrg ud 37 klo saya malah rencana 40 emang uda stop ngoding, saat ini fokus bikin apps yang kira2 bisa profit kedepanya, dari pengalaman2, btw editor2 yang bapak sebutkan dlu jga pernah saya plajari wwkwk</li><li>Try Setyo Utomo: keren, thanks pak, udah sharing!</li><li>Dian Kesuma: Semangat pa &#x1F603; saya guru bahasa Jepang, sampe sekarang tetap ngoding, AWS, laravel, CI, nextjs, ngajar ws lotus dll tahun 1992. Ayo yg muda2 gas terus.</li><li>Mawan A. Nugroho: Nah, dulu juga saya ngajar WS, Lotus 123, dan dBase, wkwkwk...<br>Masih ingat dengan ^QY di WS, atau /wcs di 123, atau perintah yang legendaris di dBase: SET TALK OFF.<br>&#x1F604;</li><li>Dian Kesuma: Kita seumuran pa wkwkwk</li><li>Aditya Aditya: Menurutku pribdi yes bener, IT bukan pekerjaan yg menjanjikan masa depan</li><li>Alexander Bambang: ngena banget komennya pak</li><li>Arbain Nurr Kholis: terimakasih pak atas sharing pengalamanya</li><li>Yoyokk Bae: Benar banget</li><li>Ferry Satyadi Sastrawinata: bener banget saya juga dulu lulusan binus 97 kerja mulai dari data entry sampe jadi manager IT udah gitu lari ke management urusan nya ga pegang IT lagi. Karena ga ngikutin perkembangan IT yang sangat cepat. Jadi walaupun udah ga pegang IT lagi usahakan tetap ikutin trend IT biar ga ketinggalan banget. Kerja sama orang jangan lama lama kecuali di perusahaan besar &#x1F601;. Mening buka usaha sendiri.</li><li>Adams Firdaus: masuk akal dan memang harus dipikirkan dgn berbagai macam keterbatasan manusia..</li><li>Budi Gunawan: Saya sependapat dengan bapak ini</li><li>Ananta Tri Wijatmiko<br>well said sir, jadi yang saat ini masih muda dan jago programming.. jangan anggap remeh ilmu IT di bidang lain di luar pemrograman seperti framework COBIT, ITIL, TOGAF, ataupun ilmu komunikasi dan manajemen lainnya. Karena kedepannya hal itu yang sangat penting dan jadi pegangan anda ketika menjadi manajer TI.</li><li>Fariz Rifqi<br>sangat setuju ini, mulai dari fisik dan pikiran mulai tergerus usia hehe<br>tetapi harus tetap semangat dan membuka pikiran untuk persiapan masa depan</li><li>Suparmin<br>sangat berguna dan membantu mencerahkan</li></ul>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pakta Integritas]]></title><description><![CDATA[Apakah Integrity Pact cocok diserap menjadi Pakta Integritas? Apakah bahasa Indonesia begitu miskin sehingga dianggap tidak mempunyai padanan katanya? Tulisan ini mencoba menunjukkan alasan bahwa kita seharusnya menterjemahkan Integrity Pact menjadi Perjanjian Kejujuran.]]></description><link>https://www.kangguru.id/pakta-integritas/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d26</guid><category><![CDATA[Istilah Asing]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Sat, 16 Mar 2024 01:57:14 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/03/pasar.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/03/pasar.jpg" alt="Pakta Integritas"><p>Sebelum dimulai, izinkan saya bertanya kepada anda, pembaca yang budiman.</p><p>Istilah <em>Artificial Intelligence (AI)</em> dalam bahasa Indonesia adalah?<br>A. Inteligensi Artifisial.<br>B. Kecerdasan Buatan.</p><p>Kata &quot;Inteligensi&quot; dan &quot;Artifisial&quot; ada di KBBI lho. Tapi saya pribadi lebih memilih memakai istilah &quot;Kecerdasan Buatan&quot;. Jujur saja, saya merasa tidak nyaman dengan istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan hanya mengubah huruf-hurufnya, padahal telah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Lain persoalan bila benar-benar tidak ada padanan katanya.</p><p>Kita &#x2014;Sebagai guru&#x2014; pasti akrab dengan istilah Pakta Integritas. Setiap akan menjadi pengawas ujian, bahkan untuk menjadi Guru Penggerak, kita diwajibkan menandatangani Pakta Integritas.</p><p>Apa itu Pakta Integritas?<br>Pakta Integritas berasal dari bahasa Inggris: <em>Integrity Pact.</em></p><ul><li><em>Integrity</em> = Kejujuran.</li><li><em>Pact</em> = Perjanjian.</li></ul><p>Sejak dulu saya lebih suka menulis &quot;Perjanjian Kejujuran&quot; atau menulis bahasa asingnya sekalian yaitu <em>&#x201C;Integrity Pact&#x201D;</em> dari pada mencoba menyerap menjadi &#x201C;Pakta Integritas&#x201D; yang membingungkan orang awam berbahasa Indonesia maupun orang asing berbahasa Inggris, walau pun Pakta Integritas telah ada di KBBI sebagai istilah serapan dari bahasa asing.</p><p>Menyerap menjadi &#x201C;Pakta Integritas&#x201D; sama saja menyerap:</p><ul><li><em>Mouse</em> menjadi maus.</li><li><em>Keyboard</em> menjadi kibor / kibot.</li><li><em>Upload</em> menjadi aplud.</li><li><em>Download</em> menjadi donlut.</li></ul><p>Ayo cintai bahasa Indonesia. Lebih baik kita menterjemahkan:</p><ul><li><em>Mouse</em> menjadi tetikus atau tetap <em>mouse</em>.</li><li><em>Keyboard</em> menjadi papan ketik.</li><li><em>Download</em> menjadi unduh.</li><li><em>Upload</em> menjadi unggah.</li><li><em>Ambiguous</em> menjadi &quot;bermakna ganda&quot;, bukan ambigu.</li><li><em>Artificial</em> menjadi buatan, bukan artifisial.</li><li><em>Inteligence</em> menjadi kecerdasan, bukan inteligensi.</li><li><em>Integrity Pact</em> menjadi Perjanjian Kejujuran, bukan Pakta Integritas.</li><li><em>Integrity Zone</em> menjadi Wilayah Kejujuran, bukan Zona Integritas.</li></ul><p>Bila ada yang berdalih <em>&#x201C;Integrity Pact&#x201D;</em> berbeda dengan &#x201C;Perjanjian Kejujuran&#x201D;, maka tanyakan kepada orang-orang berbahasa Inggris apakah mereka meributkan istilah &#x201C;beras&#x201D; dan &#x201C;nasi&#x201D;?</p><p>Mereka menyebut &#x201C;beras&#x201D; dan &#x201C;nasi&#x201D; dengan <em>&#x201C;rice&#x201D;</em>. Atau &#x201D;jeruk&#x201D; dan &#x201C;jingga&#x201D; dengan <em>&#x201C;orange&#x201D;</em>.</p><p>Mereka &#xA0;tidak meributkan mencari kata yang tepat untuk beras dan nasi. Bahkan mereka pun menyebut jeruk dan jingga dengan satu kata yang sama yaitu <em>orange</em>. Kita saja yang sering meributkan perbedaan sepele.</p><p>Orang-orang Indonesia zaman dulu menyebut <em>chocolate</em> dengan coklat, dan <em>brown</em> pun dengan coklat. Itu berlanjut sampai sekarang. Tidak ada masalah kan?</p><p>Saya lelah berdebat dengan orang yang ngotot memakai kalimat &#x201C;destinasi wisata&#x201D; karena berpendapat bahwa &#x201C;tujuan wisata&#x201D; tidak tepat untuk menterjemahkan kalimat <em>&#x201C;travel destination&#x201D;</em>.</p><div class="kg-card kg-callout-card kg-callout-card-grey"><div class="kg-callout-emoji">&#x1F4A1;</div><div class="kg-callout-text">Memang benar bahwa kata-kata di atas adalah kata-kata serapan dari bahasa Inggris yang telah ada di KBBI yang berarti telah menjadi kata bahasa Indonesia. Dengan demikian, <em>Integrity Pact</em> dapat diterjemahkan menjadi Pakta Integritas, sebagaimana <em>Artificial Intelligence</em> dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Inteligensi Artifisial, dan dapat juga diterjemahkan menjadi Kecerdasan Buatan. Anda memilih yang mana? Saya lebih memilih yang terakhir yaitu Kecerdasan Buatan, karena lebih mudah dipahami masyarakat umum, atau sekalian saja saya menggunakan kata dalam bahasa &quot;asli&quot;-nya yaitu <em>Artificial Intelligence</em>. Menggunakan istilah Inteligensi Artifisial bukan saja dapat membingungkan orang asing, tapi juga dapat membingungkan orang Indonesia yang awam.</div></div><p>Untungnya, sekarang makin banyak orang yang peduli dan berhati-hati agar tidak asal menyerap istilah asing. Sehingga kita kini terbiasa dengan kata &quot;Griya Tawang&quot; <em>(penthouse)</em> dan rubanah <em>(basement)</em>. Jangan sampai kata-kata asing itu diserap menjadi penhos dan besmen karena akan membuat kita making pusing.</p><p>Nah, bagaimana dengan <em>Student Agency</em>? Di Pendidikan Guru Penggerak, <em>Student Agency</em> diterjemahkan menjadi Kepemimpinan Murid. Ini bagus, dari pada diterjemahkan menjadi Agensi Murid. Walau pun menurut saya, <em>Student Agency</em> lebih tepat diterjemahkan menjadi <em>Kemandirian Murid</em>.</p><p>Sebagai penutup, saya ingin membahas tentang istilah <em>&quot;Drive Thru&quot;</em>. Apakah anda tahu padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Di Malaysia disebut dengan istilah &quot;Pandu lalu&quot;, sedangkan di Indonesia disebut dengan &quot;Lantatur&quot; (Layanan tanpa turun). Kalau saya boleh usul, sebaiknya adalah &quot;Sambara&quot; (Sambil berkendara). Hmmm... mirip nama tokoh di cerita silat ya?</p><p>Mawan A. Nugroho.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Stupid Facebook]]></title><description><![CDATA[This text explains that Facebook has taken arbitrary action against me for opposing violence towards children. I'm deliberately writing in English to avoid any misunderstandings.]]></description><link>https://www.kangguru.id/stupid-facebook/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d25</guid><category><![CDATA[Facebook]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Wed, 14 Feb 2024 05:05:42 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/02/facebook.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/02/facebook.jpg" alt="Stupid Facebook"><p>On February 11, 2024, Facebook prompted me with, &quot;What&apos;s on your mind, Mawan?&quot;<br>I shared my thoughts regarding the <a href="https://jakartaglobe.id/news/tamaras-boyfriend-confesses-to-submerging-dante-for-breathing-exercises?ref=kangguru.id">case of the death of a 6-year-old child</a>, D, who was submerged in a swimming pool by YA, the boyfriend of the victim&apos;s mother. The perpetrator claimed he was training the victim&apos;s endurance in holding breath underwater, an excuse I find unreasonable. If such acts are deemed acceptable, there&apos;s concern that similar cases may arise in the future, like repeated beatings under the pretext of physical resilience training.</p><p>I was shocked when Facebook deleted my post a few hours later, citing a violation of Community Standards regarding violence and incitement. Despite my intention to prevent such actions, I wonder why Facebook removed an anti-violence campaign. I&apos;ve long observed that Facebook&apos;s AI is inferior, with poor translations. Now, I&apos;m more convinced that not only is the system flawed, but the employees handling content are as well.</p><p>I do not support violence or incitement. As a teacher and the father of a 3.5-year-old son, I&apos;ve never harmed him physically or raised my voice at him.</p><p>One might say, &quot;It&apos;s a trivial matter. Just type it again.&quot;<br>It&apos;s not that simple. I adhere to rules and take pride in being law-abiding. When Facebook labels me as rule-breaking, my pride is disturbed.</p><p>I&apos;ll continue to fight because I&apos;m confident I&apos;m not guilty. Facebook may delete my post, but I&apos;ll share this on my blogs, Tik-Tok, X (Twitter), and other platforms. Let the community judge Facebook&apos;s arbitrary actions against a good, innocent person. It&apos;s not just about wasting time or missing money-making opportunities on Facebook; it&apos;s about self-respect. One person&apos;s self-respect against the Facebook giant. I won&apos;t give up until Facebook acknowledges the negligence of its unprofessional employees.</p><p>I suggest Facebook should recruit employees who understand the Indonesian language and communication style, and conduct manual verification before punishing someone!</p><p>Every region has its linguistic style. In some areas, saying &quot;F*** you&quot; might be normal, but when translated into Indonesian, it could be perceived as very rude. Similarly, the Indonesian language has phrases considered normal here but might be deemed inappropriate overseas. That&apos;s why I recommend Facebook hire employees genuinely familiar with Indonesian, not just AI or individuals from the United States relying on Facebook&apos;s poor machine translation results.</p><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/02/image.png" class="kg-image" alt="Stupid Facebook" loading="lazy" width="720" height="1280" srcset="https://www.kangguru.id/content/images/size/w600/2024/02/image.png 600w, https://www.kangguru.id/content/images/2024/02/image.png 720w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Gaji Guru di Berbagai Negara]]></title><description><![CDATA[Bila kita berkata, "Gaji rata-rata guru di Swiss, Luksemburg, Kanada, Jerman, dan Australia telah di atas Rp 1 miliar per tahun." Maka akan ada yang menimpali, "Iya gaji mereka besar. Tapi biaya hidup mereka juga besar."]]></description><link>https://www.kangguru.id/gaji-guru-di-berbagai-negara/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d24</guid><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Thu, 04 Jan 2024 21:27:15 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/01/sekolah-di-pedesaan.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/01/sekolah-di-pedesaan.jpg" alt="Gaji Guru di Berbagai Negara"><p>Bila kita berkata, <em>&quot;Gaji rata-rata guru di Swiss, Luksemburg, Kanada, Jerman, dan Australia telah di atas Rp 1 miliar per tahun.&quot;</em> Maka akan ada yang menimpali, <em>&quot;Iya gaji mereka besar. Tapi biaya hidup mereka juga besar.&quot;</em> Ini seolah menggambarkan bahwa kesejahteraan guru di Swiss sama saja dengan kesejahteraan guru di Indonesia. Benarkah?</p><p>Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita bisa menggunakan indikator seperti rasio gaji terhadap biaya hidup, daya beli, dan indeks kualitas hidup. Rasio gaji terhadap biaya hidup adalah perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran seseorang. Daya beli adalah kemampuan seseorang untuk membeli barang dan jasa dengan pendapatannya. Indeks kualitas hidup adalah ukuran yang menggabungkan berbagai aspek seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan, keamanan, dan kebebasan.</p><p>Sebagai informasi, gaji rata-rata guru di Swiss adalah sekitar USD 110.000 atau setara Rp 1,6 miliar per tahun. Sementara itu, gaji rata-rata guru di Indonesia adalah sekitar Rp 5,2 juta per bulan atau Rp 62,4 juta per tahun. Ini gaji rata-rata lho ya, karena gaji guru di Indonesia sangat bervariasi. Ada yang di bawah UMR tapi ada juga yang telah mencapai belasan juta rupiah perbulan.</p><p>Walau pun gaji guru di Swiss besar, namun biaya hidup di Swiss juga termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Biaya hidup rata-rata per bulan di Swiss berkisar antara 1.600 hingga 1.700 Euro atau sekitar Rp 26,2 juta hingga Rp 27,8 juta. Biaya hidup ini meliputi sewa tempat tinggal, tagihan utilitas, makanan, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Sedangkan biaya hidup rata-rata per bulan di Indonesia berkisar antara Rp 5,6 juta hingga Rp 14,9 juta, tergantung kota tempat tinggal.</p><p>Ada yang menarik dari data <a href="https://scontent-cgk1-1.xx.fbcdn.net/v/t39.30808-6/441452185_3713036558914822_711816337688508200_n.jpg?_nc_cat=108&amp;ccb=1-7&amp;_nc_sid=5f2048&amp;_nc_eui2=AeGHKIXI3XC4-pmBIjeAhgIwFhKziNEZOEUWErOI0Rk4RedoDvVnWxj9T7ycnbTs35iTUj6e_vpLkpf4o7ebtnLH&amp;_nc_ohc=R8ZsDYbhNdwQ7kNvgH4c2-2&amp;_nc_ht=scontent-cgk1-1.xx&amp;oh=00_AfC8p-bqdl05aKvcOQThWzUsojBte9gg_znl9TI2blH-Sw&amp;oe=663BCAE4&amp;ref=kangguru.id">Remitly</a> tentang profesi idaman di Asia Tenggara.</p><ul><li>Timor-Timur ingin menjadi Dokter.</li><li>Singapura dan Filipina ingin menjadi Penulis.</li><li>Vietnam ingin menjadi Penyanyi.</li><li>Thailand ingin menjadi Sutradara.</li><li>Brunei dan Malaysia ingin menjadi Guru.</li><li>Indonesia ingin menjadi <em>Youtuber</em>.</li></ul><p>Sebagai gambaran, gaji guru adalah:</p><ul><li>Brunei sekitar Rp 24,2 juta/bulan.</li><li>Malaysia sekitar Rp 22,5 juta/bulan.</li><li>Indonesia sekitar Rp 3,5 juta/bulan. </li></ul><p>Oke, kembali ke &quot;laptop&quot;. Karena biaya hidup di Swiss tergolong besar, apakah berarti guru di Indonesia lebih sejahtera dari pada di Swiss? Mari kita analisa.</p><h3 id="1-rasio-gaji-vs-biaya-hidup">1. Rasio Gaji vs Biaya Hidup</h3><p>Rasio gaji terhadap biaya hidup untuk guru di Swiss adalah sekitar 5,4, artinya gaji guru di Swiss cukup untuk menutupi biaya hidup sekitar 5,4 kali lipat. Singkatnya, satu kali gajian bisa untuk membiayai kebutuhan sampai 5 bulan ke depan. Sementara itu, rasio gaji terhadap biaya hidup untuk guru di Indonesia adalah sekitar 0,9, artinya gaji guru di Indonesia kurang dari cukup untuk menutupi biaya hidup.</p><p>Dari segi rasio gaji terhadap biaya hidup, guru di Swiss lebih sejahtera daripada guru di Indonesia.</p><h3 id="2-daya-beli">2. Daya Beli</h3><p>Daya beli untuk guru di Swiss adalah sekitar 102, artinya gaji guru di Swiss setara dengan gaji rata-rata dunia ditambah 2 persen. Sementara itu, daya beli untuk guru di Indonesia adalah sekitar 18, artinya gaji guru di Indonesia hanya setara dengan 18 persen dari gaji rata-rata dunia.</p><p>Dari segi daya beli, guru di Swiss juga lebih sejahtera daripada guru di Indonesia.</p><h3 id="3-indeks-kualitas-hidup">3. Indeks Kualitas Hidup</h3><p>Indeks kualitas hidup untuk Swiss adalah sekitar 192, yang menempatkan negara ini di peringkat ke-2 di dunia. Sementara itu, indeks kualitas hidup untuk Indonesia adalah sekitar 97, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-73 di dunia.</p><p>Dari segi indeks kualitas hidup, Swiss juga unggul daripada Indonesia.</p><h2 id="kesimpulan">Kesimpulan</h2><p>Berdasarkan 3 indikator di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam hal ekonomi, guru-guru di Swiss lebih sejahtera meskipun biaya hidup di Swiss juga lebih tinggi.</p><p>Namun ini <strong>bukan berarti</strong> guru di Indonesia <strong>tidak sejahtera</strong>. Kesejahteraan bukan hanya tentang uang. Ada juga faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi tingkat kesejahteraan seseorang, seperti kepuasan kerja, keseimbangan hidup dan kerja, budaya, dan nilai-nilai pribadi. Nah, untuk hal-hal yang disebutkan terakhir ini, mungkin saja guru Indonesia lebih baik.</p><p>Tetap semangat, dan tetap bersyukur menjadi Guru Indonesia. Kerja ikhlas untuk mewujudkan setiap anak-anak didik menjadi versi terbaik dari mereka, adalah suatu kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan uang. Bukankah begitu bapak ibu guru yang hebat?</p><hr><p>Referensi: <a href="https://sl.bing.net/c9JwvkB8Gg8?ref=kangguru.id">Bing Chat</a>.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Bahayakah Merebus Air Berulang Kali?]]></title><description><![CDATA[Merebus air adalah salah satu cara untuk membunuh kuman dan bakteri yang ada di dalamnya. Apakah Anda pernah merebus air berulang kali? Apakah Anda tahu apa dampaknya bagi kesehatan Anda?]]></description><link>https://www.kangguru.id/bahayakah-merebus-air-berulang-kali/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d22</guid><category><![CDATA[Kesehatan]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Thu, 28 Dec 2023 00:21:54 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2024/03/Firefly-A-kettle-on-a-stone-stove--heated-by-a-fire-from-firewood--5-meters-away-is-a-tent--there-is.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2024/03/Firefly-A-kettle-on-a-stone-stove--heated-by-a-fire-from-firewood--5-meters-away-is-a-tent--there-is.jpg" alt="Bahayakah Merebus Air Berulang Kali?"><p>Air adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Air memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, seperti menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengeluarkan racun, dan menjaga fungsi organ-organ vital. Namun, tidak semua air yang kita konsumsi aman dan sehat. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas air, salah satunya adalah cara memasaknya. Apakah Anda pernah merebus air berulang kali? Apakah Anda tahu apa dampaknya bagi kesehatan Anda? Dalam essay ini, saya akan menjelaskan bahaya merebus air berulang kali dan bagaimana cara menghindarinya.</p><p>Merebus air adalah salah satu cara untuk membunuh kuman dan bakteri yang ada di dalamnya. Jika Anda memiliki air yang sempurna murni, distilasi dan deionisasi, tidak akan terjadi apa-apa jika Anda merebusnya kembali. Namun, air biasa mengandung gas terlarut dan mineral. Kimia air berubah ketika Anda merebusnya karena ini menghilangkan senyawa-senyawa yang mudah menguap dan gas terlarut. Ada banyak kasus di mana hal ini diinginkan. Namun, jika Anda merebus air terlalu lama atau merebusnya kembali, Anda berisiko meningkatkan konsentrasi beberapa bahan kimia yang tidak diinginkan yang mungkin ada di dalam air. Contoh bahan kimia yang menjadi lebih terkonsentrasi termasuk nitrat, arsenik, dan fluor.</p><p>Ada kekhawatiran bahwa air yang direbus kembali dapat menyebabkan seseorang mengembangkan kanker. Kekhawatiran ini tidak tanpa alasan. Sementara air rebusan baik, meningkatkan konsentrasi zat beracun dapat membahayakan Anda untuk penyakit tertentu, termasuk kanker. Misalnya, asupan nitrat yang berlebihan telah dikaitkan dengan methemoglobinemia dan beberapa jenis kanker. Paparan arsenik dapat menghasilkan gejala toksisitas arsenik, ditambah itu telah dikaitkan dengan beberapa bentuk kanker. Bahkan &quot;mineral sehat&quot; dapat menjadi terkonsentrasi ke tingkat yang berbahaya. Misalnya, asupan garam kalsium yang berlebihan, yang umumnya ditemukan dalam air minum dan air mineral, dapat menyebabkan batu ginjal, pengerasan arteri, arthritis, dan batu empedu.</p><p>Secara umum, merebus air, membiarkannya dingin dan kemudian merebusnya kembali tidak menimbulkan banyak risiko kesehatan. Misalnya, jika Anda menyimpan air di teko teh, merebusnya, dan menambahkan air ketika tingkatnya rendah, Anda tidak cenderung membahayakan kesehatan Anda. Lebih baik jika Anda tidak membiarkan air mendidih, yang mengkonsentrasikan mineral dan kontaminan dan jika Anda merebus air kembali, lebih baik melakukannya sekali atau dua kali, daripada menjadikannya praktik standar Anda. Wanita hamil dan orang-orang yang berisiko untuk penyakit tertentu mungkin ingin menghindari merebus air kembali daripada mengambil risiko mengkonsentrasikan bahan kimia berbahaya di dalam air.</p><p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa merebus air berulang kali dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih dan memasak air yang kita konsumsi. Beberapa cara untuk menghindari bahaya merebus air berulang kali adalah menggunakan air segar untuk merebus, tidak merebus air terlalu lama atau terlalu sering, dan menggunakan filter air untuk mengurangi kandungan bahan kimia yang tidak diinginkan. Dengan demikian, kita dapat menjaga kesehatan dan kualitas hidup kita.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ketika Selembar Kertas Sangat Berpengaruh]]></title><description><![CDATA[Dalam era pendidikan yang semakin terfokus pada ijazah, artikel ini mengajukan pertanyaan mendasar tentang esensi sejati pendidikan. Apakah pendidikan hanya tentang perolehan ijazah semata, atau seharusnya menjadi wahana pengembangan potensi individu, keterampilan praktis, dan pemahaman mendalam?]]></description><link>https://www.kangguru.id/ketika-selembar-kertas-sangat-berpengaruh/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d21</guid><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Wed, 27 Dec 2023 03:21:37 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2023/12/sekolah-barat.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2023/12/sekolah-barat.jpg" alt="Ketika Selembar Kertas Sangat Berpengaruh"><p>Seiring berjalannya waktu, paradigma pendidikan di berbagai negara mengalami perubahan signifikan. Namun, terdapat fenomena menarik yang seringkali terabaikan, yaitu bagaimana satu selembar kertas, yang kita sebut ijazah atau sertifikat pelatihan/workshop, memiliki pengaruh begitu besar dalam kehidupan seseorang. Artikel ini akan membahas fenomena tersebut dan merenungkan dampaknya terhadap tujuan sejati pendidikan.</p><p><strong>1. Ijazah Sebagai Tujuan Akhir</strong></p><p>Menyusuri lorong-lorong sekolah, banyak dari kita mungkin pernah bertanya-tanya, &quot;Apakah tujuan sebenarnya kita ke sekolah?&quot; Sayangnya, jawaban untuk sebagian besar orang adalah bukan semata-mata untuk mencari ilmu, melainkan untuk mendapatkan selembar kertas bernama ijazah. Ijazah, yang seharusnya menjadi bukti pencapaian intelektual seseorang, kini terkadang menjadi tujuan akhir pendidikan.</p><p>Ketika ijazah menjadi satu-satunya tujuan akhir dari proses pendidikan, tekanan pada anak-anak untuk bersekolah menjadi semakin besar. Orang tua kadang-kadang terjebak dalam paradigma bahwa keberhasilan hidup hanya dapat dicapai melalui gelar akademis. Akibatnya, anak-anak merasakan beban berat untuk memenuhi ekspektasi ini. Mereka pergi ke sekolah dengan perasaan &quot;terpaksa,&quot; dan suasana di dalam kelas terasa lebih seperti tempat penitipan anak daripada sarana pembelajaran.</p><p>Pentingnya ijazah menggeser fokus dari pencarian ilmu menjadi upaya untuk mencapai target akademis. Hasilnya, belajar bukan lagi suatu kegiatan yang dinikmati, melainkan &quot;siksaan batin&quot; yang harus dijalani dari bel masuk hingga bel pulang. Semangat murid untuk mengejar pengetahuan pun mulai luntur, karena sekolah dianggap sebagai kewajiban yang harus dipenuhi daripada kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.</p><p>Seiring waktu, bunyi bel pulang menjadi harapan yang dinanti-nanti. Bagi banyak murid, itu adalah saat paling dinanti, di mana beban dan tekanan di sekolah mereda setidaknya untuk sementara waktu. Beberapa bahkan sampai merespon dengan kegembiraan yang terdengar dalam seruan &quot;Hore!&quot; ketika bel pulang berbunyi. Sayangnya, dalam kegembiraan itu, esensi pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter terkadang terlupakan.</p><p>Meskipun dulu kemungkinan tidak naik kelas terkait dengan prestasi akademis, kini sistem pendidikan lebih cenderung mengarah pada kondisi di mana naik kelas hampir dijamin. Hal ini, sayangnya, dapat mengakibatkan minimnya motivasi untuk belajar dengan maksimal, karena murid merasa dapat melanjutkan ke tingkat berikutnya tanpa perlu mendalami dan memahami pelajaran secara mendalam. Perlu refleksi mendalam untuk memahami kembali esensi sejati pendidikan dan mengembalikan nilai-nilai substansial dalam perjalanan pembelajaran anak-anak muda kita.</p><p><strong>2. Ijazah dan Akses Pekerjaan</strong></p><p>Pentingnya ijazah semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa dunia kerja lebih sering melihat kualifikasi formal daripada kemampuan sebenarnya. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan ijazah agar memiliki peluang diterima bekerja dan untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Ini menciptakan paradoks di mana seseorang dapat memiliki ijazah tinggi, namun mungkin belum tentu memiliki keterampilan praktis yang diperlukan di dunia kerja.</p><p>Pendidikan tinggi merupakan salah satu jenjang pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia kerja. Namun, dalam kenyataannya, banyak lulusan perguruan tinggi yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi atau minat mereka. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah pentingnya ijazah sebagai syarat utama untuk melamar pekerjaan.</p><p>Pentingnya ijazah semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa dunia kerja lebih sering melihat kualifikasi formal daripada kemampuan sebenarnya. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan ijazah agar memiliki peluang diterima bekerja dan untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Ini menciptakan paradoks di mana seseorang dapat memiliki ijazah tinggi, namun mungkin belum tentu memiliki keterampilan praktis yang diperlukan di dunia kerja.</p><p>Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran terbuka (APTB) lulusan perguruan tinggi pada Februari 2022 mencapai 7,24 persen, lebih tinggi daripada lulusan SMA (5,94 persen) atau SMP (4,86 persen). Hal ini menunjukkan bahwa ijazah tidak menjamin seseorang dapat bekerja dengan mudah. Bahkan, beberapa pekerjaan yang tidak memerlukan ijazah, seperti pengusaha, youtuber, atau influencer, dapat memberikan penghasilan yang lebih besar daripada pekerjaan yang memerlukan ijazah, seperti guru, dokter, atau akuntan.</p><p><strong>3. Perlombaan Meningkatkan Nilai</strong></p><p>Sekolah dan perguruan tinggi terkadang terjerat dalam perlombaan untuk meningkatkan nilai para murid. Hal ini dilakukan agar lulusan dapat bersaing lebih baik di pasar kerja yang kompetitif. Di tengah persaingan ini, keaslian tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan kemampuan dan pengetahuan, dapat terabaikan.</p><p>Beberapa sekolah terindikasi mempraktikkan kebijakan naiknya nilai murid setiap semester, dan dalam beberapa kasus, terdapat dorongan agar nilai minimal (KKM/KKTP) ditingkatkan untuk menciptakan kesan bahwa murid-murid tersebut meraih prestasi setara dengan nilai A dan B. Fenomena ini mencerminkan suatu tekanan yang muncul dari kebutuhan untuk menunjukkan peningkatan akademis, bahkan jika itu tidak selalu mencerminkan kemajuan sejati dalam pemahaman materi atau kemampuan murid.</p><p>Tren ini juga merembes ke dunia perguruan tinggi, di mana perguruan tinggi negeri yang dianggap favorit masih terkadang memberikan nilai lulusan dengan nilai C. Di sisi lain, di beberapa perguruan tinggi swasta, nilai C dapat dianggap sebagai indikasi yang memerlukan mahasiswa untuk mengulang suatu mata kuliah. Dampak dari kebijakan ini terlihat dalam tekanan yang ditempatkan pada dosen untuk memberikan nilai minimal B kepada mahasiswanya, terlepas dari pencapaian sebenarnya.</p><p>Pertanyaan mendasar pun muncul: Apakah nilai A dari suatu kampus mencerminkan bahwa mahasiswanya lebih pintar daripada nilai B dari kampus lain? Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Sistem penilaian yang beragam dan praktik kebijakan kenaikan nilai cenderung merendahkan nilai sebagai indikator keberhasilan akademis sejati. Oleh karena itu, perlu pertimbangan kritis dalam menilai kualitas pendidikan dan prestasi akademis suatu lembaga, melampaui sekadar simbol nilai yang mungkin dapat dipengaruhi oleh kebijakan internal.</p><p><strong>4. Sertifikat Daring vs. Kualitas Pelatihan</strong></p><p>Di sektor pemerintahan, terutama dalam lingkungan Pegawai Negeri Sipil (PNS), sertifikat pelatihan dapat membuat seseorang cepat naik pangkat, khususnya pada pelatihan dengan durasi lebih dari 32 jam. Maka muncullah pelatihan-pelatihan daring di mana seseorang dapat memperolah 3 sertifikat dalam sebulan yang secara logika sangat sulit didapat.</p><p>Ironisnya, kadang-kadang mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan sertifikat tersebut tanpa memperhatikan kualitas pelatihan yang sesungguhnya. Mereka mungkin hadir secara fisik, namun terdistraksi oleh aktivitas lain, meninggalkan esensi dari pelatihan tersebut. Yang penting bayar, maka sertifikat pun muncul.</p><p><strong>5. Ijazah vs. Kemampuan Sebenarnya</strong></p><p>Semua fenomena ini menciptakan pertanyaan mendasar: Apakah ijazah lebih dihargai daripada kemampuan sebenarnya? Apakah pendidikan modern telah kehilangan fokusnya untuk mengembangkan potensi setiap individu demi satu lembar kertas?</p><p>Fenomena ini menunjukkan bahwa ijazah dianggap sebagai indikator utama dari kualitas dan kemampuan seseorang, tanpa memperhatikan faktor-faktor lain yang juga penting, seperti keterampilan, pengalaman, atau minat. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa pendidikan modern cenderung berorientasi pada hasil, yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah yang tinggi dan prestisius, tanpa memperhatikan proses, yaitu mengembangkan potensi dan bakat setiap individu sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.</p><p>Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat dari berbagai kasus yang sering terjadi di masyarakat, misalnya:</p><ul><li>Seorang lulusan S2 yang memiliki ijazah dari universitas ternama, tetapi tidak memiliki keterampilan komunikasi, kerjasama, atau kreativitas yang dibutuhkan oleh pekerjaannya. Akibatnya, ia sering mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, atau klien, dan tidak dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi perusahaan.</li><li>Seorang lulusan SMA/SMK yang memiliki keterampilan menggambar, mendesain, atau memprogram yang luar biasa, tetapi tidak memiliki ijazah yang sesuai dengan bidangnya. Akibatnya, ia sering mengalami diskriminasi atau penolakan saat melamar pekerjaan, padahal ia memiliki portofolio yang menarik dan berkualitas.</li><li>Seorang lulusan D3 yang memiliki ijazah dari politeknik, tetapi tidak memiliki pengetahuan teoritis yang mendalam tentang bidangnya. Akibatnya, ia sering mengalami kesenjangan antara apa yang ia pelajari di kelas dan apa yang ia hadapi di lapangan, dan tidak dapat mengatasi masalah-masalah yang kompleks atau baru.</li></ul><p>Dampak negatif dari fenomena ini adalah sebagai berikut:</p><ul><li>Penurunan kualitas sumber daya manusia, karena ijazah tidak selalu mencerminkan kemampuan sebenarnya seseorang. Banyak orang yang memiliki ijazah tinggi tetapi tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja, atau sebaliknya, banyak orang yang memiliki keterampilan yang mumpuni tetapi tidak memiliki ijazah yang sesuai. Hal ini menyebabkan ketidaksesuaian antara kualifikasi dan kompetensi, yang dapat berdampak pada kinerja, produktivitas, atau inovasi.</li><li>Ketidakadilan sosial, karena ijazah seringkali menjadi faktor yang membatasi akses seseorang ke peluang-peluang yang lebih baik. Banyak orang yang berbakat dan berpotensi tetapi tidak memiliki ijazah yang tinggi, sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, atau pengembangan diri yang layak. Sebaliknya, banyak orang yang kurang berbakat dan berpotensi tetapi memiliki ijazah yang tinggi, sehingga mudah untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, atau pengembangan diri yang lebih baik. Hal ini menyebabkan ketimpangan dan kesenjangan sosial, yang dapat berdampak pada kesejahteraan, keadilan, atau harmoni.</li><li>Pemborosan sumber daya pendidikan, karena pendidikan modern cenderung berfokus pada hasil, yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah yang tinggi dan prestisius, tanpa memperhatikan proses, yaitu mengembangkan potensi dan bakat setiap individu. Hal ini menyebabkan banyak sumber daya pendidikan, seperti waktu, tenaga, uang, atau fasilitas, yang terbuang sia-sia, karena tidak digunakan secara optimal untuk mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya, yaitu membentuk manusia yang berkualitas, berdaya, dan berbakti.</li></ul><p><strong>Menyelami Ulang Arti Pendidikan</strong></p><p>Saat kita menilai dampak fenomena ini, kita dihadapkan pada pertanyaan esensial tentang arti sejati pendidikan. Apakah pendidikan seharusnya hanya tentang mendapatkan ijazah, ataukah seharusnya lebih fokus pada pengembangan potensi individu, keterampilan praktis, dan pemahaman mendalam?</p><p>Argumen yang mendukung pernyataan bahwa ijazah lebih dihargai daripada kemampuan sebenarnya adalah sebagai berikut:</p><ul><li>Ijazah penting sebagai bukti kompetensi, karena ijazah merupakan hasil dari proses belajar yang panjang, sistematis, dan terstandar. Ijazah menunjukkan bahwa seseorang telah mempelajari dan menguasai bidang ilmu tertentu dengan baik, dan telah lulus ujian yang mengukur kemampuannya. Ijazah juga menunjukkan bahwa seseorang telah mengikuti kurikulum yang disusun oleh para ahli dan disahkan oleh pemerintah, sehingga memiliki kredibilitas dan kualitas yang terjamin.</li><li>Ijazah penting sebagai alat seleksi, karena ijazah merupakan salah satu cara yang mudah, cepat, dan objektif untuk menilai kualifikasi seseorang. Ijazah dapat digunakan sebagai syarat awal untuk melamar pekerjaan, pendidikan, atau penghargaan, karena ijazah dapat memberikan gambaran umum tentang kemampuan seseorang. Ijazah juga dapat digunakan sebagai alat pembanding, karena ijazah dapat menunjukkan perbedaan tingkat pendidikan, prestasi, atau pengalaman antara satu orang dengan orang lain.</li></ul><p>Sebagai masyarakat yang semakin canggih, mungkin saatnya bagi kita untuk merenung dan merefleksikan kembali arti sejati pendidikan. Ijazah mungkin penting, namun keberhasilan sejati terletak pada kemampuan nyata dan kontribusi positif terhadap masyarakat. Mungkin sudah saatnya kita membebaskan diri dari paradoks ini dan mengembalikan esensi sejati dari pendidikan modern.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Penemuan Misterius 200 Kerangka Manusia]]></title><description><![CDATA[Pada sebuah lembah di ketinggian 4.800 meter di atas permukaan laut, ditemukan 200 kerangka manusia yang meninggal secara misterius.]]></description><link>https://www.kangguru.id/penemuan-misterius-200-kerangka-manusia/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d20</guid><category><![CDATA[Misteri]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Sat, 02 Dec 2023 00:27:20 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2023/12/kerangka.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2023/12/kerangka.jpg" alt="Penemuan Misterius 200 Kerangka Manusia"><p>Pada tahun 1942, sebuah patroli Inggris di Roopkund, India, membuat penemuan yang mengejutkan. Sekitar 17.000 kaki di atas permukaan laut, di dasar lembah kecil, terdapat sebuah danau beku yang penuh dengan kerangka manusia. Pada musim panas, es mencair, memperlihatkan sisa-sisa kerangka yang lebih banyak, mengambang di air dan tergeletak sembarangan di sekitar tepi danau. Apakah sesuatu yang mengerikan telah terjadi di sini?</p><p>Para ilmuwan sekarang percaya bahwa mereka akhirnya memecahkan misteri tentang bagaimana dan mengapa kerangka lebih dari 200 orang ditemukan di danau beku di India utara.</p><p>Danau Roopkund terletak di India utara, sepanjang perbatasan Nepal, pada ketinggian 4.800 meter (~16.000 kaki) di atas permukaan laut dengan tepiannya tertutup salju sebagian besar tahun. Airnya relatif dangkal, hanya mencapai kedalaman maksimum 2 meter, dan membeku sebagian besar tahun. Iklim beku di ketinggian ini secara signifikan membantu dalam pelestarian rambut, jaringan lunak, dan pakaian kulit, sehingga membuat semua orang percaya bahwa ini adalah kematian baru-baru ini. Pada awalnya, kerangka-kerangka ini dianggap sebagai jasad tentara Jepang yang meninggal karena terpapar saat melakukan perjalanan melalui India sebagai bagian dari invasi Perang Dunia II. Analisis lebih baru menyimpulkan bahwa sisa-sisa tersebut jauh lebih tua dari yang diperkirakan oleh siapa pun, diperkirakan berasal dari sekitar tahun 850 Masehi.</p><p>Jumlah yang signifikan dari jaringan lunak yang masih ada awalnya membingungkan semua orang. Bagaimana mungkin kerangka-kerangka ini sudah tua jika masih ada daging pada tulang?</p><p>Siapakah orang-orang ini? Bukti DNA dari sisa-sisa menunjukkan adanya dua kelompok yang berbeda - (1) kelompok yang memiliki hubungan dekat atau keluarga, dan (2) kelompok yang lebih pendek dari orang-orang lokal, kemungkinan dipekerjakan sebagai kuli angkut dan pemandu. Banyak artefak (tombak, sepatu kulit, cincin, dll.) ditemukan di antara sisa-sisa, yang membawa para ahli pada kesimpulan bahwa kelompok keluarga kemungkinan besar terdiri dari peziarah yang melewati lembah dengan bantuan penduduk setempat sebagai pemandu.</p><p>Apa yang terjadi pada mereka? Awalnya diusulkan bahwa orang-orang ini meninggal akibat terpapar, mungkin terjebak dalam longsoran salju. Namun, pemeriksaan lebih lanjut pada tulang-tulang menunjukkan adanya bukti trauma perimortem pada banyak kerangka. Ini adalah trauma yang terjadi pada saat kematian. Para ilmuwan rupanya menemukan pola yang mengejutkan, di mana tengkorak dan sebagian besar tulang atas tubuh mengalami jenis trauma yang sama.</p><p>Sisa-sisa dipamerkan di atas batu bersama dengan artefak &#x2013; barang-barang pribadi seperti sepatu kulit.</p><p>Apakah mereka dibunuh? Menurut para ahli, kerangka-kerangka hanya menunjukkan tanda-tanda satu jenis luka perimortem. Selain itu, mereka tidak memiliki luka-luka khas senjata pada periode waktu tersebut. Sebaliknya, para ahli menentukan bahwa cedera-cedera tersebut mengindikasikan dampak dari objek besar dan berbentuk bulat.</p><p>Ekspedisi tahun 2004 ke danau mengungkapkan skenario baru dan tak terduga yang bisa menyebabkan kematian lebih dari 200 orang. Menyebar luasnya cedera pada kepala dan bahu membuat para ahli bertanya-tanya apakah kematian mereka disebabkan oleh sesuatu yang jatuh dari atas. Dengan mempertimbangkan bukti kerangka dan lingkungan yang dingin, sekarang diusulkan bahwa cedera-cedera disebabkan oleh badai hujan es tiba-tiba dan parah di mana orang-orang dihujani oleh batu hujan es berdiameter 23 cm (9 inci). Terjebak di dalam lembah tanpa tempat berlindung, tidak ada jalan keluar yang mudah, sehingga menghasilkan kumpulan kerangka misterius ini. Tubuh mereka tetap tersembunyi di lembah glasial, membeku dan mencair selama 1.200 tahun berikutnya hingga penemuan mereka yang mengerikan.</p><p>Apakah peristiwa ini benar-benar mungkin? Sulit menilai skenario traumatis ini tanpa melihat gambaran yang samar-samar dari trauma tulang. Namun, pencarian cepat di internet tentang batu hujan es mengungkapkan bahwa batu hujan es memang bisa mencapai ukuran 9 inci seperti yang diusulkan para ahli. Batu hujan es terbesar yang pernah dikumpulkan di AS memiliki diameter 8 inci dan berat hampir 2 pon. Meskipun ukuran batu hujan es yang ekstrem, hanya 3 orang yang meninggal di AS (dalam 3 badai terpisah).</p><p>Catatan sejarah menunjukkan bahwa badai hujan es paling mematikan terjadi pada 30 April 1888, di distrik utara India, menewaskan 230 orang. Hujan es yang turun dilaporkan seukuran jeruk, menumpuk hingga 2 kaki. Meskipun jarang terjadi, tampaknya badai hujan es aneh dengan batu hujan es berukuran besar ini memiliki sejarah terbentuk di Dataran Tinggi Deccan India dan Bangladesh. Baru-baru ini, sekitar 31 Januari 2013, badai hujan es yang parah selama 20 menit tiba-tiba melanda beberapa desa di negara bagian Andhra Pradesh di India selatan, menewaskan 9 orang. Durasi singkat badai mungkin menjadi penyebab minimalnya trauma pada bagian tubuh bawah.</p><p>Kematian di Danau Rookpund sangat mungkin disebabkan oleh badai hujan es yang aneh. Meskipun jarang terjadi, catatan sejarah menunjukkan bahwa badai hujan es ini lebih sering terjadi di daerah itu dan telah dikenal dapat menghasilkan batu hujan es seukuran batu kecil. Dengan mempertimbangkan semua bukti, tampaknya badai hujan es yang singkat namun intens sangat mungkin telah menyebabkan kematian sekitar 200 individu pada tahun 850 Masehi, sehingga memecahkan misteri aneh ini.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Arti Kebencian Dialektis]]></title><description><![CDATA[Anda yang sampai di halaman web ini pasti sedang mencari arti istilah "kebencian dialektis" yang menjadi populer di pertengahan November 2023. Jadi, apa arti sebenarnya?]]></description><link>https://www.kangguru.id/arti-kebencian-dialektis/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d1e</guid><category><![CDATA[Berita]]></category><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Tue, 21 Nov 2023 14:21:01 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2023/11/menggosip.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2023/11/menggosip.jpg" alt="Arti Kebencian Dialektis"><p>Pada tanggal 16 November 2023, di X (dulu bernama Twitter) ada <a href="https://twitter.com/breakingbaht/status/1724892505647296620?ref=kangguru.id">tweet</a> berbahasa Inggris seperti ini: <em>&quot;AAA communities have been pushing the exact kind of <strong>dialectical hatred</strong> against BBB that they claim to want people to stop using against them.&quot;</em> yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi &quot;Komunitas AAA telah mendorong jenis <strong>kebencian dialektis</strong> terhadap BBB yang mereka klaim ingin orang-orang berhenti menggunakannya untuk melawan mereka&quot;.</p><p>Catatan: AAA dan BBB adalah nama ras yang sebaiknya tidak ditulis di sini, sebab fokus kita adalah memahami arti istilah <em>&quot;dialectical hatred&quot;</em> atau &quot;kebencian dialektis&quot; yang tidak lazim diucapkan dalam percakapan bahasa Indonesia sehari-hari.</p><p>Tweet di atas menjadi perbincangan hangat karena menyangkut Elon Musk dan X (dulu bernama Twitter yang kini dimiliki oleh Elon Musk). Gara-gara ini, perusahaan-perusahaan besar menghentikan memasang iklan di X. Perusahaan-perusahaan itu adalah: Apple, Comcast/NBC Universal (induk dari CNBC.com), Disney, IBM, Lions Gate, Paramount Global, dan Warner Bros. Discovery.</p><p>Di Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada penjelasan tentang istilah &quot;Kebencian Dialektis&quot;. Di Google Search pun tidak ada. Oke, saatnya bertanya ke AI <em>(Artificial Intelligence)</em> atau Kecerdasan Buatan.</p><p>Ternyata bertanya ke AI pun tak semudah seperti biasanya. Ketika saya mencoba bertanya ke Microsoft Bing Chat dengan mencantumkan langsung kalimat yang dimaksud, jawabannya normatif. Mungkin karena ini menyangkut tentang ras tertentu yang akhirnya malah jawaban AI menjadi berbelit-belit.</p><p>Bing Chat Kusut. Saya tidak menyerah. Saya mencoba bertanya ke AI lain &#x2014;yaitu ChatGPT yang pengetahuannya baru sampai tahun 2022&#x2014; tentunya dengan menyamarkan menjadi AAA dan BBB. Setelah disamarkan, barulah jawabannya jelas. Jawaban ChatGPT adalah seperti ini:</p><blockquote>Dalam konteks ini, mungkin ada suatu situasi di mana komunitas AAA mengkritik atau menentang tindakan tertentu yang dianggap sebagai kebencian atau diskriminasi terhadap mereka, tetapi sebenarnya mereka juga terlibat dalam perilaku serupa terhadap kelompok BBB. Ini menciptakan paradoks atau kontradiksi, di mana tindakan mereka tidak sesuai dengan nilai atau prinsip yang mereka klaim terapkan.</blockquote><blockquote>Hal ini dapat mencerminkan ketidaksesuaian antara retorika dan tindakan dalam konteks kebijakan atau gerakan sosial tertentu. Dalam hal ini, penulis mungkin ingin menyoroti ironi atau paradoks perilaku tersebut.</blockquote><p>Singkatnya: &#x201C;Kebencian dialektis&#x201D; dapat merujuk pada kebencian yang muncul dari perdebatan atau diskusi yang bertentangan.</p><p>Nah, kurang lebih seperti itu gambarannya. Semoga membantu.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Waspadai Modus Penipuan Ini]]></title><description><![CDATA[Akhir-akhir ini marak bermunculan modus-modus penipuan gaya baru yang belum diketahui masyarakat luas. Apa saja itu?]]></description><link>https://www.kangguru.id/waspadai-modus-penipuan-ini/</link><guid isPermaLink="false">66417d7387bd048f5c716d1c</guid><dc:creator><![CDATA[Mawan A. Nugroho]]></dc:creator><pubDate>Sat, 04 Nov 2023 21:50:53 GMT</pubDate><media:content url="https://www.kangguru.id/content/images/2023/11/penipu.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://www.kangguru.id/content/images/2023/11/penipu.jpg" alt="Waspadai Modus Penipuan Ini"><p>Para penipu makin kreatif memanfaatkan Teknologi Komputer untuk menipu korbannya. Media yang paling sering dipakai adalah SMS, pesan WhatsApp, pesan Telegram, dan surat elektronik (email).</p><p>Seperti apa cara mereka menipu? Simak artikel di bawah ini.</p><h3 id="baim-wong-terjebak-penipuan-di-whatsapp">Baim Wong Terjebak Penipuan di WhatsApp</h3><p>Artis Baim Wong mengaku menjadi korban penipuan melalui aplikasi jahat yang dikirim melalui WhatsApp. Kejadian ini terjadi sekitar seminggu yang lalu dan baru diketahui oleh Baim Wong setelah ada transaksi mencurigakan dari rekening banknya.</p><p>Baim Wong menceritakan kronologi kejadian tersebut di akun Instagramnya. Dia mengatakan bahwa dia menerima pesan WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal. Si pengirim mengaku sebagai kurir dan mengirim foto paket berupa file. Kebetulan, Baim Wong juga sedang menunggu kiriman barang yang dia pesan secara online.</p><p>Baim Wong tidak curiga dan langsung membuka file tersebut. Setelah itu, muncul tampilan <em>loading</em> beberapa saat. Baim Wong mengabaikannya karena sedang sibuk dengan pekerjaan lain.</p><p>Namun, ternyata file tersebut adalah aplikasi jahat yang bisa mengakses data pribadi Baim Wong, termasuk nomor rekening dan PIN bank. Tanpa sepengetahuan Baim Wong, aplikasi tersebut melakukan transfer uang dari rekening Baim Wong ke rekening lain yang tidak dikenal.</p><p>Baim Wong baru menyadari hal ini ketika dia mendapat notifikasi transfer bank dari rekeningnya. Dia langsung menghubungi pihak bank dan memutuskan untuk memblokir rekeningnya. Dia juga mencari informasi di internet dan mengetahui bahwa dia menjadi korban peretasan data pribadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.</p><h3 id="apa-yang-terjadi">Apa Yang Terjadi?</h3><p>Ketika Baim Wong mengklik file lampiran yang ada di pesan WhatsApp, maka sebenarnya Baim Wong sedang memasang (meng-<em>install)</em> aplikasi. Bila aplikasi ini telah terpasang di ponsel, maka aplikasi ini dapat:</p><ol><li>Memata-matai ketukan layar ponsel. Artinya, bila korbannya mengetik PIN atau Password, maka PIN atau Password itu diam-diam dikirimkan ke penipu.</li><li>Mengirim foto dan video yang ada di galery ke suatu server atau ke ponsel si penipu.</li><li>Mengirim permintaan OTP dan memantau kiriman OTP secara diam-diam, tanpa disadari korbannya. Ide OTP adalah penipu tidak akan tahu kode yang dikirim melalui SMS. Tapi karena aplikasi jahat ini terpasang di ponsel korbannya, maka penipu pun bisa mengetahui kode OTP tanpa perlu bertanya ke korbannya.</li></ol><p>Selain pura-pura berupa laporan kiriman barang, penipu juga sering mengirim aplikasi jahat berupa Undangan Pernikahan, peringatan perubahan biaya bank, dan sebagainya. </p><p>Bila anda mengalami kejadian serupa, maka menutup sementara rekening bank atau mengganti PIN dan password adalah langkah yang tepat. Setelah itu anda harus memastikan bahwa tidak ada aplikasi jahat yang masih menempel di ponsel. Yang terbaik tentu saja <em>Factory Reset</em> yang berarti ponsel dikondisikan agar menjadi seperti baru keluar dari pabrik. Tapi bila itu dianggap berlebihan, maka anda harus memperhatikan setiap aplikasi yang terpasang di ponsel kemudian menghapus aplikasi yang mencurigakan atau dianggap tidak penting.</p><div class="kg-card kg-callout-card kg-callout-card-grey"><div class="kg-callout-emoji">&#x1F4A1;</div><div class="kg-callout-text">Bagaimana menjaga diri kita agar tidak mudah menjadi korban penipuan?</div></div><h3 id="punya-2-ponsel">Punya 2 Ponsel</h3><p>Yang pertama, anda sebaiknya mempunyai 2 ponsel.</p><ol><li>Ponsel pertama untuk pemakaian sehari-hari yang diisi WhatsApp, Telegram, Facebook, Instagram, Tik-Tok, Email, dan peramban <em>(web browser)</em>. Bebas! Nomor HP yang dipasang di ponsel ini adalah nomor yang tidak penting atau kadang hangus kemudian diganti nomor lain. Ponsel ini boleh dikantongi.</li><li>Ponsel ke dua tidak boleh diisi aplikasi apapun kecuali aplikasi Internet Banking dan Mobile Banking. Jangan ada WhatsApp. Simpan ponsel ini di dalam tas yang sulit dijangkau. Jangan browsing (membuka website) memakai ponsel ini. Nomor HP yang dipasang di sini adalah yang didaftarkan ke bank untuk menerima OTP. &#xA0;Jangan beritahukan nomor HP ini ke orang lain kecuali petugas bank dan keluarga dekat. Ketika kita membeli makanan cepat saji atau membayar di kasir mini market, kadang ditanya nomor HP. Jangan sebutkan nomor HP ini. Sebutkan nomor HP di ponsel pertama saja. Sebaiknya nomor HP ini adalah nomor HP yang tidak mudah hangus, misalkan By.U atau nomor ponsel yang bisa dibayari 1 tahun ke depan sehingga tidak akan hangus sekali pun tidak diisi pulsa selama 1 tahun.</li></ol><p>Dengan mempunyai 2 ponsel seperti yang dijelaskan di atas, maka aplikasi jahat tidak bisa secara otomatis meminta OTP kemudian menggunakan OTP itu secara diam-diam karena OTP dikirim ke ponsel ke dua.</p><p>Ada fakta cukup menarik, yaitu para penipu sering mengincar pengguna HP Android. Karena alasan ini, ada baiknya anda mempunyai 2 ponsel, salah satunya adalah ponsel bersistem operasi iOS, misalkan iPhone. Tidak perlu iPhone keluaran terbaru. Gunakan iPhone sebagai ponsel pertama. Aplikasi Android buatan penipu pasti tidak bisa dipasang di iOS. Lagi pula iOS mencegah pemasangan aplikasi yang bukan bersumber dari Apple Store.</p><h3 id="dont-talk-to-strangers">Don&apos;t Talk To Strangers</h3><p>Pencegahan ke 2 adalah selalu waspada pada orang asing. Jangan mudah percaya apa yang dikatakan orang asing, dan jangan mudah tergoda dengan tawaran menarik yang dikatakan orang asing.</p><p>Ingat: Logo bank pada foto profil akun WhatsApp bukan berarti itu dari petugas bank karena siapa pun bisa memasang foto itu. Bahkan kalau mau, saya pun bisa memakai foto artis sebagai foto profil. Iya kan?</p><h3 id="video-call">Video Call</h3><p>Bila ada seseorang mengaku dari petugas bank, dari kepolisian, atau guru di tempat anak anda sekolah yang mengabarkan bahwa anak anda kecelakaan, ajaklah video call. Sekali lagi: <strong>Video Call!</strong> Jangan layani pesan teks. Penipu akan berusaha menghindar dari video call, misalkan berdalih kamera HPnya rusak, sedang berada di kamar gelap, atau memakai karakter AI sebagai pengganti wajahnya. Anda pasti bisa membedakan wajah manusia asli dengan wajah buatan komputer. Ekspresi AI lebih hambar, datar, dan serius. Gerakan bibirnya pun tidak sinkron dengan kata yang diucapkan.</p><p>Bila yang dibicarakan adalah tentang uang, maka anda harus ditemani orang lain yang ikut mendengarkan percakapan itu. Orang ke tiga biasanya tidak mudah panik dan tidak mudah &quot;dihipnotis&quot;. Yang paling praktis adalah anda mendatangi counter pulsa kemudian konsultasi pada penjaganya. Biasanya penjaga counter pulsa cukup kebal penipuan. Alternatif lain adalah menemui petugas Polisi dan ceritakan kejadiannya. Naluri polisi cukup tajam dalam mencium aksi kejahatan.</p><p>Ketika penipu mulai frustasi, dia akan menggertak. Inilah salah satu fungsi orang yang mendampingi anda. Penipu cukup ahli memainkan psikologi agar anda menjadi pihak yang membutuhkan pertolongan. Dengan adanya teman, teman andalah yang akan balas menggertak.</p><h3 id="penipuan-modus-me-like-instagram">Penipuan Modus Me-Like Instagram</h3><p>Yang juga marak terjadi akhir-akhir ini adalah tawaran kerja sambilan <em>(part time)</em>. Dulu tugasnya adalah mengelem label teh celup. Sekarang modusnya adalah cukup me-<em>like</em> postingan instagram. Setelah me-<em>like</em> sekian kali, dapat uang Rp 40.000.</p><p>Mudah kan? Modal jempol menari di layar HP, dapat transferan Rp 40.000.</p><p>Uang Rp 40.000 benar-benar ditransfer. Ini untuk meyakinkan bahwa mereka bukan penipu. Setelah itu anda ditawari kerja lain. Tapi yang ini tidak gratis. Harus membayar <em>top-up</em> (biaya administrasi) Rp 100.000. Nanti setelah bekerja anda akan dibayar Rp 200.000.</p><p>Nah, di sini jebakan <em>Badman</em>-nya. Setelah anda mentransfer Rp 100.000 ke rekening si penipu, si penipu menghilang. Anda rugi Rp 100.000 - Rp 40.000 = Rp 60.000.</p><p>Penipu kadang tidak langsung menghilang di putaran pertama. Dia benar-benar mentransfer Rp 100.000. Tujuannya agar bisa meminta <em>top-up</em> lebih besar, misalkan Rp 500.000 dan anda dijanjikan dibayar Rp 1 juta. Barulah di titik ini dia menghilang.</p><h3 id="penutup">Penutup</h3><p>Aksi penipuan akan berhasil pada orang-orang yang:</p><ol><li>Kurang waspada / mudah percaya pada orang asing.</li><li>Malas membaca pesan peringatan alias langsung pencet tombol &quot;OK&quot; tanpa tahu itu oke untuk apa.</li><li>Mudah panik.</li><li>Ingin cepat kaya dengan cara mudah.</li></ol><p>Karena itu, kita ada baiknya selalu ingat pada falsafah orang Jawa yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga yaitu: <em>Ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh, ojo aleman</em>. Jangan mudah kaget, jangan mudah kagum, jangan egois, dan jangan gila pujian.</p><p>Dan untuk penipu, ingatlah bahwa hidup tidak selamanya. Uang yang didapat dari cara tidak halal hanya membuat orang yang menikmatinya (anak, istri) menjadi tidak baik dan mungkin akan menjadi orang jahat pula. Sadarkah anda bahwa yang menakutkan dari neraka bukanlah pedihnya siksa neraka, tapi keabadiannya!</p><p>Mawan A. Nugroho, S.Kom, M.Kom</p>]]></content:encoded></item></channel></rss>